Oleh: BOCAH ANGON | Januari 5, 2011

Macam-macam keesaan Tuhan

Macam-macam Keesaan (Tuhan)

Berbicara tentang macam-macam keesaan Allah mengantarkan kita untuk memahami paling tidak surat Al-Ikhlas, sedikitnya tentang ayatnya yang pertama,

Katakanlah! Dia Allah Yanq Maha Esa.

Abu As-Su’ud. salah seorang pakar tafsir dan tasawuf menulis dalam tafsirnya. bahwa Al-Quran menempatkan kata huwa untuk menunjuk kepada Allah. padahal sebelumnya tidak pernah disebut dalam susunan redaksi ayat ini kata yang menunjuk kepada-Nya. lni. menurutnya. untuk memberi kesan bahwa Dia Yang Maha kuasa itu, sedemikian terkenal dan nyata sehingga hadir dalam benak setiap orang dan hanya kepada- Nya selalu tertuju segala isyarat.

Ahad yang diterjemahkan dengan kata Esa terambil dari akar kata wahdat yang berarti “kesatuan”, seperti juga kata wahid yang berarti “satu. ” Kata ini sekali berkedudukan sebagal nama, dan sekali sebagai sifat bagi sesuatu. Apabila ia berkedudukan sebagai sifat, maka ia hanya digunakan untuk Allah Swt. semata.

Dalam ayat di atas, kata Ahad berfungsi sebagai sifat Allah Swt. , dalam arti bahwa Allah memiliki sifat -sifat tersendiri yang tidak dimiliki oleh selain-Nya.

Dari segi bahasa, kata Ahad walaupun berakar sama dengan Wahid, tetapi masing-masing memiliki makna dan penggunaan tersendiri. Kata Ahad hanya digunakan untuk sesuatu yang tidak dapat menerima penambahan baik dalam benak apalagi dalam kenyataan, karena itu kata ini-ketika berfungsi sebagai sifat –tidak termasuk dalam rentetan bilangan, berbeda halnya dengan wahid (satu) ; Anda dapat menambahnya sehingga menjadi dua, tiga, dan seterusnya, walaupun penambahan itu hanya dalam benak pengucap atau pendengarnya.

Berbicara tentang angka-dalam kaitannya dengan bahasan tauhid-agaknya menarik untuk dihayati bahwa kata “Ahad” terulang di dalam Al-Quran sebanyak 85 kali. namun hanya sekali yang menjadi sifat Tuhan yakni firman-Nya dalam surat Al-Ikhlas, “Qul huwa allahu ahad” Seakan-akan Allah bermaksud untuk menekankan keyakinan tauhid, bukan saja dalam maknanya, tetapi juga dalam bilangan pengulangan lafalnya, serta kandungan lafal itu. Ini menggambarkan kemurnian mutlak dalam keesaan. Bukankah kata Wahid yang berarti ” satu” , dapat berbilang unsumya, berbeda dengan kata Ahad yang mutlak tidak berbilang. walau hanya sekadar unsumya? Benar! Allah terkadang juga disifati dengan kata Wahid seperti antara lain dalam firman-Nya:

Tuhan-Mu adalahTuhan yang Wahid, tiada Tuhan selainDia, Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (QS Al-Baqarah [2]: 163).

Sementara ularna berpendapat bahwa kata Wahid dalam ayat di atas. menunjuk kepada keesaan Zat-Nya disertai dengan keragaman sifat-sifat-Nya. bukankah Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang, Mahakuat, Maha Mengetahui dan sebagainya, sedangkan kata Ahad dalam surat Al- Ikhlas itu, mengacu kepada keesaan Zat-Nya saja, tanpa memperlihatkan keragaman sifat-sifat tersebut.

Terlepas dari setuju atau tidak dengan pembedaan terakhir ini. namun yang jelas bahwa Allah Maha Esa, dan Keesaan-Nya itu mencakup empat macam keesaan.

  1. Keesaan Zat.
  2. Keesaan Sifat.
  3. Keesaan Perbuatan.
  4. Keesaan dalam beribadah kepada-Nya.

1. Keesaan Zat-Nya

Keesaan Zat mengandung pengertian bahwa seseorang harus percaya bahwa Allah Swt. tidak terdiri dari unsur-unsur . atau bagian-bagian. karena bila Zat Yang Maha kuasa itu terdiri dari dua unsur atau lebih -betapapun kecilnya unsur atau bagian itu-maka ini berarti Dia membutuhkan unsur atau bagian itu. Atau dengan kata lain unsur atau bagian itu merupakan syarat bagi wujud-Nya. Ambil sebagai contoh sebuah jam tangan. Anda menemukan jam tersebut terdiri dari beberapa bagian. ada jarum yang menunjuk angka. ada logam. ada karet. dan lain-lain. Bagian-bagian tersebut dibutuhkan oleh sebuah jam tangan. karena tanpa bagian itu. ia tidak dapat menjadi jam tangan. Nah. ketika itu. wa1aupun jam tangan ini hanya satu. tetapi ia tidak esa. karena ia terdiri dari bagian-bagian tersebut. Jika demikian. Zat Tuhan pasti tidak terdiri dari unsur atau bagian-bagian betapapun kecilnya. karena jika demikian. Dia tidak lagi menjadi Tuhan. Benak kita tidak dapat membayangkan Tuhan membutuhkan sesuatu dan Al-Quran pun menegaskan demikian:

Wahai seluruh manusia. kamulah yang butuh kepada Allah dan Allah Mahakaya tidak membutuhkan sesuatu lagi Maha Terpuji (QS Fathir [35]: 15).

Setiap penganut paham tauhid berkeyakinan bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu dan Dia sendiri tidak bersumber dari sesuatu pun. Al-Quran menegaskan bahwa.

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS Al-Syura [42]: 11).

Perhatikan redaksi ayat di atas, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”. Yang serupa dengan-Nya pun tidak ada, apalagi yang seperti Dia, lebih-lebih yang sama dengan-Nya, Karena itu, jangankan secara faktual di dunia nyata ada yang seperti dengan-Nya, yang secara imajinatif pun tidak ada yang serupa dengan-Nya.

Keragaman dan bilangan lebih dari satu adalah substansi setiap makhluk, bukan ciri Khaliq. ltulah sebagian makna Keesaan dalam Zat-Nya.

2. Keesaan Sifat-Nya

Adapun keesaan sifat- Nya, maka itu antara lain berarti bahwa Allah memiliki sifat yang tidak sama dalam substansi dan kapasitasnya dengan sifat makhluk, walaupun dari segi bahasa kata yang digunakan untuk menunjuk sifat tersebut sama, Sebagai contoh, kata Rahim merupakan sifat bagi Allah, tetapi juga digunakan untuk menunjuk rahmat atau kasih sayang makhluk. Namun substansi dan kapasitas rahmat dan kasih sayang Allah berbeda dengan rahmat makhluk -Nya.

Allah Esa dalam sifat-Nya, sehingga tidak ada yang menyamai substansi dan kapasitas sifat tersebut.

Sementara ulama memahami lebih jauh keesaan sifat-Nya itu, dalam arti bahwa Zat-Nya sendiri merupakan sifat-Nya. Demikian mereka memahami keesaan secara amat murni. Mereka menolak adanya “sifat” bagi Allah, walaupun mereka tetap yakin dan percaya bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Pengampun, Maha Penyantun, dan lain-lainyang secara umum dikenal ada sembilan puluh sembilan. Mereka yakin tentang hal tersebut, tetapi mereka menolak menamainya sifat-sifat. Lebih jauh penganutpaham ini berpendapat bahwaltsifat-Nya” merupakan satu kesatuan, sehingga kalau dengan tauhid Zat, dinafikan segala unsur keterbilangan pada Zat-Nya, betapapun kecilnya unsur itu, maka dengan tauhid sifat dinafikan segala macam dan bentuk ketersusunan dan keterbilangan bagi sifat-sifat Allah. Berapa jumlah sifat Allah itu? Yang populer menurut sebuah hadis ada 99 sifat. Tetapi Muhammad Husain Ath-Thabathaba’i, setelah menelusuri ayat-ayat Al-Quran, menyimpulkan bahwa ada 127 nama atau sifat Allah yang ditemukan dalam Al-Quran, kesemuanya merupakan Al-Asma’ Al-Husna. Rincian sifat/nama-nama itu dikemukakannya dalam Tafsimya Al-Mizan ketika menafsirkan QS Al-A’raf [7]: 180.

3. Keesaan Perbuatan-Nya

Keesaan ini mengandung arti bahwa segala sesuatu yang berada di alam raya ini, baik sistem kerjanya maupun sebab dan wujud-Nya, kesemuanya adalah basil perbuatan Allah semata. Apa yang dikebendaki-Nya terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, tidak ada daya (untuk memperoleh manfaat), tidak pula kekuatan (untuk menolak madarat), kecuali bersumber dari Allah Swt. , itulah makna:

Tetapi ini bukan berarti bahwa Allah Swt. berlaku sewenang-wenang. atau “bekerja” tanpa sistem yang ditetapkan- Nya. Keesaan perbuatan-Nya dikaitkan dengan hukum-hukum atau takdir dan sunnatullah yang ditetapkan-Nya.

Dalam mewujudkan kehendak -Nya Dia tidak membutuhkan apa pun.

Sesungguhnya keadaan-Nya bila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata, “Jadilah” Maka jadilah ia (QS ya Sin [36]: 82).

Tetapi ini bukan juga berarti bahwa Allah membutuhkan kata ‘Jadilah”; ayat ini hanya bermaksud menggambarkan bahwa pada hakikatnya dalam mewujudkan sesuatu Dia tidak membutuhkan apa pun. Ayat ini juga tidak berarti bahwa segala sesuatu yang diciptakan-Nya tercipta dalam sekejap, tanpa proses, sesuai dengan kehendak-Nya. Bukankah Isa a.s. dinyatakan-Nya sebagai tercipta dengan kun.

Sesungguhnya keadaan (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti Adam, diciptakan dan tanah kemudian Dia katakan kepadanya kun (jadilah), maka-jadilah dia (QS Ali ‘Imran [3]: 59). Pada ayat lain, Al-Quran menggambarkan proses kejadian Isa, yang dimulai dengan kehadiran malaikat kepada Maryam. kehamilannya, sakit perut menjelang kelahiran, dan akhimya lahir (Baca QS Maryam [19]: 16-26).

Sekali lagi, kata kun bukan berarti bahwa segala sesuatu yang dikehendaki-Nya terjadi serta-merta tanpa suatu proses.

4. Keesaan dalam beribadah kepada-Nya

Kalau ketiga keesaan di atas merupakan hal-hal yang harus diketahui dan diyakini. maka keesaan keempat ini merupakan perwujudan dari ketiga makna keesaan terdahulu.

Ibadah itu beraneka ragam dan bertingkat-tingkat. Salah satu ragamnya yang paling jelas, adalah amalan tertentu yang ditetapkan cara dan atau kadarnya langsung oleh Allah atau melalui Rasul-Nya. dan yang secara populer dikenal dengan istilah ibadah mahdhah. Sedangkan ibadah dalam pengertian- nya yang umum, mencakup segala macam aktivitas yang dilakukan demi karena Allah.

Nah, mengesakan Tuhan dalam beribadah. menuntut manusia untuk melaksanakan segala sesuatu demi karena Allah. baik sesuatu itu dalam bentuk ibadah mahdhah (murni). maupun selainnya. Walhasil. keesaan Allah dalam beribadah kepada-Nya adalah dengan melaksanakan apa yang tergambar dalam firman-Nya.

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, (semuanya) demi karena Allah, Pemelihara seluruh alam (QS Al-An’fAJ.l [6]: 162).

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: