Oleh: BOCAH ANGON | Februari 16, 2010

Para hamba ALLAH yang terkasih

MEMANDANG ALLAH

Cinta kepada Alloh ini adalah hal yang paling tinggi sekali dan itulah tujuan kita yang terakhir. Kita telah berbicara berkenaan bahaya kerohanian yang akan menghalangi cinta kepada Alloh dalam hati manusia, dan kita telah berbicara berkenaan berbagai sifat-sifat yang baik sebagai keperluan asas menuju Cinta Alloh itu.
Kesempurnaan manusia itu terletak dalam Cinta kepada Alloh ini. Cinta kepada Alloh ini hendaklah menakluki dan menguasai hati manusia itu seluruhnya. Kalau pun tidak dapat seluruhnya, maka sekurang-kurangnya hati itu hendaklah cinta kepada Alloh melebihi cinta kepada yang lain.
Sebenarnya mengetahui Cinta Ilahi ini bukanlah satu hal yang senang sehingga ada satu golongan orang bijak pandai agama yang langsung menafikan cinta kepada Alloh atau Cinta Ilahi itu. Mereka tidak percaya manusia boleh mencintai Alloh Subhanahuwa Taala karena Alloh itu bukanlah sejenis dengan manusia. Kata mereka; maksud Cinta Ilahi itu adalah semata-mata tunduk dan patuh kepada Alloh saja.
Sebenarnya mereka yang berpendapat demikian itu adalah orang yang tidak tahu apakah hakikatnya agama itu.
Semua orang Islam setuju bahwa cinta kepada Alloh (cinta Alloh) itu adalah satu tugas. Alloh ada berfirman berkenaan dengan orang-orang mukmin;

” Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. “. (Al Maidah:54)
Nabi pernah bersabda;
“Belum sempurna iman seseorang itu hingga ia Mencintai Alloh dan Rasulnya lebih daripada yang lain”.
Apabila malaikat maut datang hendak mengambil nyawa Nabi Ibrahim,
Nabi Ibrahim berkata,
“Pernahkah engkau melihat sahabat mengambil nyawa sahabat?”
Alloh berfirman,
“Pernahkah engkau melihat sahabat tidak mau melihat sahabatnya?”
Kemudian Nabi Ibrahim berkata, “Wahai Izrail! Ambillah nyawaku!”
Doa ini diajar oleh Nabi kepada sahabatnya;
“Ya Alloh, kurniakanlah kepada ku Cinta terhadap Mu dan Cinta kepada mereka yang Mencintai mu, dan apa saja yang membawa aku hampir kepada CintaMu, dan jadikanlah CintaMu itu lebih berharga kepadaku dari air sejuk kepada orang yang dahaga.”
Hasan Basri berkata;
“Orang yang kenal Alloh akan Mencintai Alloh, dan orang yang mengenal dunia akan benci kepada dunia itu”.
Sekarang marilah kita membicarkan pula berkenaan dengan keadaan cinta itu. Bolehlah ditafsirkan bahwa cinta itu adalah kecenderungan kepada sesuatu yang indah atau nyaman. Ini nyata sekali pada dari yang lima (pancaindera) yaiitu tiap-tiap satunya mencintai apa yang memberi keindahan atau kepuasan kepadanya. Mata cinta kepada bentuk-bentuk yang indah. Telinga cinta kepada bunyi-bunyinya yang merdu, dan sebagainya. Inilah jenis cinta yang kita miliki dan binatang pun memilikinya.
Tetapi ada dari yang keenam atau keupayaan pandangan yang terletak dalam hati, dan ini tidak ada pada binatang. Dengan melalui inilah kita mengenal keindahan dan keagungan keruhanian. Oleh karena itu, mereka yang terpengaruh dengan kehendak-kehendak jasmaniah dan kedunian saja tidak dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh Nabi apabila baginda berkata bahwa baginda cinta kepada sembahyang melebihi dari cintanya kepada perempuan dan bau harum wangi, meskipun perempuan dan wangi-wanginya itu disukai juga oleh baginda. Tetapi siapa yang mata batinnya terbuka untuk melihat keindahan dan kesempurnaan Ilahi akan memandang rendah kepada semua hal-hal yang zhohir walau bagaimanapun cantiknya sekalipun.
Orang yang memandang zhohir saja akan berkata bahwa kecantikan itu terletak pada warna kulit yang putih dan merah, kaki dan tangan yang eloknya dan sebagainya lagi, tetapi orang ini buta kepada kecantikan akhlak, seperti apa yang dikatakan orang bahwa seseorang itu mempunyai sifat-sifat akhlak yang “indah”. Tetapi bagi mereka yang mempunyai pandangan batin dapat mencintai orang-orang besar yang telah kembali kealam baka, seperti Khalifah Umar dan Abu Bakar misalnya, karena kedua-dua orang besar ini mempunyai sifat-sifat yang agung dan mulia, meskipun tubuh mereka telah hancur menjadi tanah. Cinta seperti ini bukan memandang kepada sifat-sifat zhohir saja, tetapi memandang kepada sifat-sifat batin. Bahkan apabila kita hendak menimbulkan cinta dalam hati kanak-kanak terhadap seseorang, maka kita tidak memperihalkan keindahan bentuk zhohirnya, dan lain-lain, tetapi kita perihalkan keindahan-keindahan batinnya.
Apabila kita gunakan prinsip ini terhadap cinta kepada Alloh, maka kita akan dapati bahwa Dia sajalah sepatutnya kita Cinta. Mereka yang tidak mencintai Alloh itu ialah karena mereka tidak mengenal Alloh itu. Apa saja yang kita cinta kepada seseorang itu, kita cintai karena itu adalah bayangan Alloh. Karena inilah kita cinta kepada Muhammad Saw karena baginda adalah Rasul dan kekasih Alloh, dan cinta kepada orang-orang alim dan orang-orang auliya itu adalah sebenarnya cinta kepada Alloh.
Kita akan lihat ini lebih jelas jika kita perhatikan apakah sebab-sebabnya yang menyemarakkan cinta.
Sebab pertama ialah, bahwa seseorang itu cinta kepada dirinya sendiri dan menyempurnakan keadaannya sendiri. Ini membawanya secara langsung menuju Cinta kepada Alloh, karena wujudnya dan sifatnya manusia itu adalah semata-mata Kurniaan Alloh saja. Jika tidaklah karena kehendak Alloh Subhanahuwa Taala dan KemurahanNya, manusia tidak akan zhohir ke alam nyata itu. Kejadian manusia itu dan pencapaian menuju kesempurnaan adalah juga dengan kurnia Alloh semata. Sungguh aneh jika seseorang itu berlindung ke bawah pohon dari sinar matahari tetapi tidak berterima kasih kepada pohon itu.
Begitu jugalah jika tidaklah karena Alloh, manusia tidak akan wujud dan tidak akan ada mempunyai sifat-sifat langsung. Oleh karena itu, kenapa manusia itu tidak Cinta kepada Alloh? Jika tidak cinta kepada Alloh berarti ia tidak mengenalNya. Tanpa mengenalNya orang tidak akan Cinta kepadaNya, karena Cinta itu timbul dari pengenalan . Orang yang bodoh saja yang tidak mengenal.
Sebab yang kedua ialah, bahwa manusia itu cinta kepada orang yang menolong dan memberi kurnia kepada dirinya. Pada hakikatnya yang memberi pertolongan dan kurnia itu hanya Alloh saja. Sebenarnya apa saja pertolongan dan kurnia dari makhluk atau hamba itu adalah dorongan dari Alloh Subhanahuwaa Taala juga. Apa saja niat hati untuk membuat kebaikan kepada orang lain, sama ada keinginan untuk maju dalam bidang agama atau untuk mendapatkan nama yang baik, maka Alloh itulah pendorong yang menimbulkan niat, keinginan dan usaha untuk mencapai apa yang dicinta itu.
Sebab yang ketiga ialah cinta yang ditimbulkan dengan cara renungan atau tafakur tentang Sifat-sifat Alloh, Kuasa dan KebijaksanaanNya. Dan bermula Kekuasaan dan kebijaksanaan manusia itu adalah bayangan yang amat kecil dari Kekuasaan dan Kebijaksanaan Alloh Subhanahuwa Taala juga. Cinta ini adalah seperti cinta yang kita rasakan terhadap orang-orang besar di zaman dulu, misalnya Imam Malik dan Imam Syafie meskipun kita tidak akan menyangka menerima sebarang faedah pribadi dari mereka itu, dan dengan itu adalah jenis yang tidak mencari untung. Alloh berfirman kepada Nabi Daud,
“Hamba yang paling aku Cintai ialah mereka yang mencari Aku bukan karena takut hukumKu atau hendakkan KurniaanKu, tetapi adalah semata-mata karena Aku ini Tuhan.”
Dalam kitab Zabur ada tertulis,
“Siapakah yang lebih melanggar batas daripada orang yang menyembahKu karena takutkan Neraka atau berkehendakkan Syurga? Jika tidak aku jadikan Surga dan Neraka itu tidakkah Aku ini patut disembah?”
Sebab yang keempat berhubungan dengan cinta ini ialah karena keterikat yang erat antara manusia dan Tuhannya, yang maksudkan oleh Nabi dalam sabdanya :
“Sesungguhnya Alloh jadikan manusia menurut bayanganNya”
Selanjutnya Alloh berfirman;
“HambaKu mencari kehampiran denganKu, supaya Aku jadikan dia kawanKu, dan bila Aku jadikan ia kawanku, jadilah Aku telinganya, matanya dan lidahnya”.
Alloh berfirman juga kepada Nabi Musa;
“Aku sakit, engkau tidak mengungjungiKu.” Nabi Musa menjawab, “Aahai Tuhan, Engkau itu Tuhan langit dan bumi, bagaimana engkau boleh sakit?” Alloh menjawab, “Seorang hambaKu sakit, kalau engkau mengunjungi dia, maka engkau mengunjungi Aku.”
Ini adalah satu hal yang agak bahaya hendaklah dikaji lebih dalam karena ia tidak terjangkau oleh pengetahuan orang awam, bahkan yang bijak pandai pun mungkin tumbang dalam perjalanan hal ini, lalu menganggap ada penzhohiran atau penjelmaan Tuhan dalam manusia. Tambahan pula hal kemiripan hamba dengan Tuhan ini dibantah oleh Alim Ulama’ yang tersebut diatas dulu karena mereka berpendapat bahwa manusia itu tidak dapat mencintai Alloh oleh sebab Alloh bukan sejenis manusia. Walau pun berapa jauh jaraknya antara mereka, namun manusia boleh mencintai Alloh karena yang kemiripan itu ada ditunjukkan oleh sabda Nabi :
“Alloh jadikan manusia menurut rupanya.”
Dan kataku pula (suluk), untuk mendapat dan menjejaki maksud sabda Nabi yang penuh dan melimpah dengan lautan hikmah zhohir dan batin ini, perlulah diambil pengajaran dari kalangan ulama yang muqarrabin yang arifbiLlah dari kalangan Aulia Alloh yang apabila berbicara, hanya akan mengungkapkan sesuatu yang didatangi dari Alam Tinggi, bukan beralaskan sesuatu kepentingan atau pengaruh hawa nafsunya. Ilmu mereka adalah pencampakkan Ilham dari Alloh Taala yang didapati terus dari Alloh sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Imam Ghazali dalam karyanya Al-Risalutul lil Duniyyah sebagaimana berikut;
Ilham adalah kesan Wahyu. Wahyu adalah penerangan Urusan Ghoibi manakala Ilham ialah pemaparannya. Ilmu yang didapati menerusi Ilham dinamakan Ilmu Laduni.
Ilmu Laduni ialah ilmu yang tidak ada perantaraan dalam mendapatkannya di antara jiwa dan Alloh Taala. Ia adalah seperti cahaya yang datang dari lampu Qhaib jatuh ke atas Qalbu yang bersih, kosong lagi halus (Lathif).
Semua orang Islam percaya bahwa memandang Alloh itu adalah puncak segala kebahagiaan karena ada tercatat dalam hukum. Tetapi bagi kebanyakan orang, ini adalah berbicara di mulut saja yang tidak menimbulkan rasa dalam hati. Sebenarnyalah begitu karena bagaimana orang dapat menyintai sesuatu jika ia tidak tahu dan tidak kenal? Kita akan coba menunjukkan secara ringkas bagaimana memandang Alloh itu puncak segala kebahagiaan yang bisa dicapai oleh manusia.
Pertama , tiap-tiap bakat atau anggota manusia itu ada tugas-tugasnya masing-masing dan ia merasa tertarik dan suka menjalankan tugas itu. Ini serupa saja sejak dari kehendak tubuh yang paling rendah hinggalah kepada pengetahuan akal yang paling tinggi. Usaha mental (otak) yang paling rendah pun mendatangkan ketertarikan yang lebih dari hanya memuaskan kehendak tubuh saja. Kadang-kadang seseorang yang khusuk bermain catur tidak mau makan meskipun ia berkali-kali dipanggil untuk makan.
Makin tinggi hal pengetahuan kita itu, maka makin bertambah menarik dan sukalah kita mengusahakan hal itu. Misalnya kita lebih berminat untuk mengetahui rahasia Sultan dan rahasia menteri. Dengan demikian, oleh karena Alloh itu adalah objek atau hal pengetahuan yang paling tinggi, maka mengenal atau mengetahui Alloh itu mestilah memberi kebahagiaan dan kelezatan lebih daripada yang lain-lain. Orang yang mengetahui dan mengenal Alloh walaupun dalam dunia ini. seolah-olah di dalam syurga, buah-buahan bebas untuk dipetik, dalam lebarnya tidak disempitkan oleh penghuninya yang ramai itu.
Firman Alloh SWT :

” Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa ” (Al Imran:133)
Tetapi kenikmatan ilmu atau pengetahuan masih tidak menyamai atau menyerupai kenikmatan pandangan sebagaimana ketertarikan kita dalam memikirkan mereka yang bercinta adalah lebih rendah daripada ketertarikan yang diberi oleh memandangnya dengan benar.
Terpenjaranya kita dalam tubuh kita dari tanah dan air dan terbelenggu kita dalam hal-hal indera (pancaindera) menjadikan hijab yang melindungi kita daripada memandang Alloh , meskipun tidak menghalang pencapaian kita kepada mengetahui dan mengenalNya. karena inilah Alloh berfirman kepada Nabi Musa di Gunung Sinai,

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Al Araaf:143)
Hakikat hal ini adalah sebagaimana benih manusia itu menjadi manusia, dan biji tamar menjadi pohon tamar, begitu jugalah mengenal Alloh yang diperoleh di dunia ini akan bertukar menjadi “Memandang Alloh” di akhirat kelak, dan mereka yang tidak mempelajari pengetahuan itu tidak akan mendapat pandangan itu. Pandangan ini tidak akan dibagi-bagikan sama rata kepada mereka yang tahu tetapi “konsep pemahaman” mereka tentangnya akan berbeda-beda sebagaimana ilmu mereka.
Alloh itu Satu tetapi ia kelihatan dengan berbagai-bagai cara, sebagaimana satu benda itu terbayang dalam berbagai cara dalam berbagai cermin. Ada yang lurus, ada yang bengkok, ada yang terang dan ada yang gelap. Sesuatu cermin itu mungkin terlalu bengkok dan ini menjadikan bentuk-bentuk yang cantik kelihatan buruk dalam cermin itu. Seseorang manusia itu mungkin membawa ke akhirat hati yang gelap dan bengkok, dan dengan itu pandangan yang menjadi puncak kedamaian dan kebahagiaan kepada orang lain, akan menjadi sumber kesengsaraan dan kedukaan kepadanya.
Orang yang Menyintai Alloh sepenuh hati dan Cintanya kepada Alloh melebihi Cintanya kepada yang lain akan memperolehi lebih banyak kebahagiaan daripada pandangan melebihi daripada mereka yang dalam hatinya tidak ada pandangan ini. Umpama dua orang yang kekuatan matanya sama saja memandang kepada wajah yang cantik. Orang yang telah ada cintanya kepada orang yang memiliki wajah itu akan merasa tertarik dan bahagia memandang wajah itu melebihi dari orang yang tidak ada cintanya kepada orang yang mempunyai wajah itu.
Untuk kebahagiaan yang sempurna, ilmu saja tidak tidaklah cukup. Hendaklah disertakan dengan Cinta. Cinta kepada Alloh itu tidak akan tercapai selagi hati itu tidak dibersihkan daripada cinta kepada dunia. Pembersihan ini dapat dilakukan dengan menahan diri dari hawa nafsu yang rendah dan bersikap zuhud.
Semasa dalam dunia ini, keadaan seseorang itu terhadap “Memandang Alloh” adalah ibarat orang yang cinta yang melihat muka orang yang yang dicintai dalam waktu senja kala dan pakaiannya penuh dengan penyengat dan kalajengking yang senatiasa menggigitnya. Tetapi sekiranya matahari terbit dan menunjukkan muka yang dicintai dengan segala keindahannya, dan penyengat serta kala itu telah pergi darinya, maka kebahagiaan orang yang cinta itu adalah seperti hamba Alloh yang terlepas dari gelap senja dan azab cobaan di dunia ini, lalu melihat dia tanpa hijab lagi .
Abu Sulaiman berkata;
“Siapa yang sibuk dengan dirinya sendiri saja di dunia ini, akan sibuk juga dengan dirinya di akhirat kelak, dan siapa yang sibuk dengan Alloh di dunia ini akan sibuk juga dengan Alloh di akhirat kelak”.
Yahya bin Mu’adz menceritakan;
“Saya lihat Abu Yazid Bustomin sembahyang sepanjang malam. apabila beliau telah habis sembahyang, beliau berdoa dan berkata :
“Oh Tuhan!!! Setengah dari hambaMu meminta padaMu kuasa untuk membuat sesuatu yang luar biasa (karamat) seperti berjalan di atas air, terbang di udara, tetapi aku tidak meminta itu; ada pula yang meminta harta karun, tetapi aku tidak meminta itu,
kemudian ia memalingkan mukanya dan setelah dilihatnya saya, ia berkata; “Kamu di situ Yahya?” Saya menjawab; “Ya!” Beliau bertanya lagi; “Sejak kapan?” Saya menjawab; “Telah lama saya di sini” Kemudian saya bertanya dan beliau menceritakan kepada saya setengah daripada pengalaman keruhaniannya.
“Saya akan menceritakan” Jawab beliau. “Apa yang boleh saya ceritakan kepadamu, Alloh Subhahahuwa Taala menunjukkan aku kerajaanNya dari yang paling tinggi hingga ke paling rendah. DiangkatNya saya melampaui Arash dan Kursi dan tujuh petala langitnya, kemudian Ia (Alloh) berkata; “Pintalah kepadaKu apa saja yang engkau kehendaki”.
Saya menjawab; “Ya Alloh!!! tidak akan saya minta apa pun melainkan Engkau”.
JawabNya (Alloh) : “Sesungguhnya engkau hambaKu yang sebenar benarnya”.
Pada suatu ketika pula Abu Yazid berkata:
“Sekiranya Alloh mengkaruniakan engkau kemiripan denganNya seperti Ibrahim, kekuasaan Sholat Musa, keruhanian ‘Isa, namun wajahmu hadapkanlah kepada Dia saja karena ia ada harta yang melampaui segala-galanya itu”
Suatu hari seorang sahabatnya berkata kepada beliau; “Selama tiga puluh tahun saya puasa di siang hari dan sembahyang di malam hari tetapi saya tidak dapati kenikmatan keruhanian yang engkau katakan itu”.
Abu Yazid menjawab; “Jika engkau puasa dan sembahyang selama tiga ratus tahun pun, engkau tidak akan mendapatkannya”.
Sahabatnnya berkata; “Bagaimanakah itu?”
Kata Abu Yazid; “obatnya ada tetapi engkau tidak akan sanggup menelannya obat itu”. Tetapi oleh karena sahabatnya itu bersungguh-sungguh benar meminta supaya diceritakan, Abu Yazid pun berkata;
“Pergilah kepada tukang gunting dan cukurlah janggutmu itu; buanglah pakaianmu itu kecuali seluar dalam saja. Ambil satu kampit penuh yang berisi “Siapa yang mau menempeleng kuduk leherku dia akan mendapat buah ini” Kemudian dalam keadaan ini pergilah kepada Kadi dan ahli syariat dan berkata; “Berkatilah Ruhku”.
Kata sahabatnya; “Tidak sanggup saya berbuat demikian, berilah saya cara yang lain”.
Abu Yazid pun berkata; “Inilah saja caranya, tetapi seperti yang telah saya katakan kamu ini tidak dapat diobat lagi”.
Sebab Abu Yazid berkata demikian kepada orang itu ialah karena orang itu sebenarnya pencari pangkat dan kedudukan. Bercita-cita hendak pangkat dan kedudukan seperti bersikap sombong dan bangga adalah penyakit yang hanya dapat diobat dengan cara yang demikian itu.
Alloh berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kami lah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israel beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (Ash Shaff:14)
Apabila orang bertanya kepada Nabi ‘Isa; “Apakah kerja yang paling tinggi sekali derajatnya?” Beliau menjawab; “Mencintai Alloh dan tunduk kepadaNya”.
Suatu ketika orang bertanya kepada Wali Alloh bernama Rabi’atul Adawiyah sama ada beliau cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau menjawab; ” Cinta kepada Alloh menghalang aku cinta kepada makhluk”.
Ibrahim bin Adham dalam doanya berkata; “Ya Alloh! pada mataku syurga itu sendiri lebih kecil dari unggas jika dibandingkan dengan Cintaku terhadapMu dan kenikmatan mengingatiMu yang Engkau telah kurniakan kepadaku”.
Siapa yang menganggap ada kemungkinan menikmati kebahagiaan di akhirat tanpa mencintai Alloh adalah orang yang telah jauh sesat anggapannya, karena segala-galanya di akhirat itu adalah kembali kepada Alloh dan Alloh itulah alamat yang dituju dan dicapai setelah melalui halangan yang tidak terhingga banyaknya. Nikmat memandang Alloh itu adalah kebahagiaan. Jika seseorang itu tidak suka kepada Alloh di sini, maka di sana pun ia tidak suka juga kepada Alloh. Jika sedikit saja sukanya kepada Alloh di sini, maka sedikit jugalah sukanya kepada Alloh di sana . Pendeknya, kebahagiaan kita di akhirat adalah tergantung pada kadar Cintanya kita kepada Alloh di dunia ini.
Sebaliknya jika dalam hati manusia itu ada tumbuh cinta kepada apa saja yang berlawanan dengan Alloh, maka keadaan hidup di akhirat sana akan berlainan dan ganjil sekali kepadanya dan dengan ini apa saja yang mendatangkan kebahagiaan kepada orang lain, akan mendatangkan ‘azab sengsara kepadanya. Mudah-mudahan Alloh lindungi kita dari terjadi sedemikian itu.
Ini bolehlah kita gambarkan dengan misalnya seperti berikut :
Seorang pengangkut sampah pergi ke kedai yang menjual minyak wangi. Apabila beliau membawa bau-bauan yang harum wangi itu, ia pun jatuh dan tidak sadar diri. Orang pun datang hendak memberi pertolongan kepadanya. Air dipercikkan kemukanya dan dihidungnya diletakkan kasturi. Tetapi beliau bertambah parah. Akhirnya datanglah seorang pengangkut sampah juga, lalu diletakkan sedikit sampah kotor di bawah hidung orang yang pingsan itu. Dengan segera orang itu pun sadar semula sambil berseru dengan rasa puas hati, “Wah! Inilah sebenarnya wangi!”
Demikian jugalah, ahli dunia tidak akan menjumpai lagi karat dan kotor dunia ini diakhirat. Kenikmatan keruhaniah alam sana berlainan sekali dan tidak sesuai dengan kehendaknya. Maka ini menjadikannya bertambah parah dan sengsara lagi. karena alam sana itu adalah alam ruhaniah dan penzhohiran Jamal (keindahan) Alloh Subhanahuwa Taala. Berbahagialah mereka yang ingin mencapai kebahagiaan di sana itu dan menyesuaikan dirinya dengan alam itu. Semua sikap zahud, menahan diri ibadah, menuntut ilmu adalah bertujuan untuk mencapai penyesuaian itu dan penyesuaian itu adalah cintanya. Inilah maksud Al-Quran:

…….., Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.(Al Baqoroh:222)
Dosa dan maksiat sangat bertentang dengan masalah ini Oleh karena itulah tercantum dalam Al-Quran:

Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan. (Al Jaatsiyah:27)
Orang yang dikaruniai dengan mata keruhanian telah nampak hakikat ini dalam rasa pengalaman mereka bukan hanya kata-kata yang diterima turun-menurun sejak dahulu lagi. Pandangan mereka itu membawa kepercayaan bahwa orang yang berkata demikian adalah sebenarnya Nabi, ibarat orang yang mengkaji ilmu pengobatan, akan tahu adakah orang yang berbicara berkenaan pengobatan itu sebenarnya dokter ataupun bukan. Ini adalah jenis keyakinan yang tidak perlu dibantu dengan mukjizat atau perbuatan yang diluar kebiasaan karena yang demikian pun dapat dilakukan juga oleh tukang sihir atau tukang silap mata.

Apa yang Tuhan inginkan

Ada sebuah fase ketika seorang pejalan dan orang-orang yang percaya musti sejenak berhenti, barangkali di antara jeda-jeda nafas ini: apa yang sebenarnya Tuhan inginkan? Apakah diam saja bagai emas atau berbicara? Apakah tetap tinggal atau hijrah? Apakah musti ke dokter atau biarkan saja? Apakah sekolah lagi atau bekerja? Apakah musti memberinya atau membiarkannya?
Yang mana yang Ia maui?
Pertanyaan serupa diajukan di sebuah diskusi bersama Bawa Muhaiyaddeen (seorang sufi asal Srilanka), terekam di (dan diterjemahkan dengan semena-mena tanpa ijin dari) buku Questions of Life, Answers of Wisdom Vol. 2.
* * *
Tanya: Kadang saya tak tahu lagi apa yang Tuhan maui. Apakah Dia ingin saya melakukan sesuatu agar terjadi, atau Dia mau saya diam saja dan menerima apapun yang terjadi?
Bawa Muhaiyaddeen: Baik. Coba kita perhatikan seorang dokter, misalnya. Setelah belajar di sekolah kedokteran, jika ia menjadi ahli bedah, ia akan memiliki akses ke semua peralatan bedah yang diperlukannya untuk menangani pasien. Apa tugasnya saat itu? Ia paham bahwa pasien yang ditanganinya bisa saja meninggal selama operasi. Ia barangkali berpikir, “Jika operasi gagal dan pasien meninggal, maka aku akan tersalah sebagai pembunuh dan masuk neraka. Tapi jika pasien hidup, aku akan dipuji.” Mungkin saja seperti itu. Tapi ia seharusnya tidak beranggapan bahwa ia bertanggungjawab terhadap hasil yang muncul.
Ada Sang Pencipta yang telah membuat tubuh ini, dengan segenap urat nadi dan syaraf-syarafnya. Segala sesuatu adalah kepunyaan-Nya, begitu juga hidup dan mati. Bahkan segala pujian dan tuduhan adalah milik-Nya semata. Sang dokter harus paham ini. Ia seharusnya berkata, “Wahai, Tuhanku, ini pekerjaan-Mu. Datanglah dan lakukan tugas-Mu. Aku hanya pembantu-Mu. Aku hanya alat di tangan-Mu. Engkaulah yang melakukan operasi ini, melindungi pasien ini, menghidupkan atau mematikannya. Ini tugas-Mu. Aku hanya instrumen. Instrumen tak punya tanggungjawab terhadap apa yang akan terjadi nanti. Sang Pelaksana dan Pelindung adalah Engkau. Oleh karena itu, Engkau, Paduka sendirilah, yang harus mengerjakan operasi ini.”

Anakku, engkau harus sadar bahwa engkau hanyalah instrumen-Nya, dan tanggungjawab tidak terletak di pundakmu. Ingatlah bahwa Tuhan-lah Sang Ahli Bedah itu dan engkau adalah tangan-Nya. Jika engkau mengerjakan tugasmu dalam keadaan seperti ini, maka tak akan ada bahaya yang akan menimpamu. Tuhan yang akan melakukannya. Namun jika engkau berkata, “Aku lah yang melakukan operasi ini,” maka pujian dan tuduhan ada di pundakmu.
Jika engkau mengerti bahwa tanggungjawab akan pujian dan tuduhan hanya tertuju pada Allah semata, dan jika engkau menyerahkan segala sesuatunya kepada-Nya, maka engkau akan mengerjakan tugasmu sebagai perangkat-Nya, “Semoga hanya Paduka-lah yang mengerjakannya, wahai Tuhanku.” Oleh karena itu, jadilah instrumen-Nya dan lakukan tugas dengan kemampuan terbaik yang engkau miliki. Itulah jalannya.
* * *

Memahami Takdir — Bawa Muhaiyaddeen
Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen
Diterjemahkan oleh Herry Mardian.

ANAK-ANAKKU tersayang, sebenarnya apa yang kita lakukan, apa yang kita perbuat, itulah yang membuahkan takdir kita (Al-Qada’ wal Qadar). Pena-nya ada di tangan kita sendiri, dan kita sendiri yang menulis bukti-bukti yang akan menjadi bahan pertimbangan pada hari pengadilan nanti. Keputusan terakhir akan dibuat berdasarkan tulisan kita ini. Allah akan membacanya dan berkata, “Inilah takdirmu (nasib). Kami akan membuatnya sebagai takdir bagimu.”
Pada keadaan-kedaan tertentu, ketika kita merasa begitu berat menyingkirkan hal tertentu, dan ketika kita merasa itu diluar kemampuan kita, kita akan berkata, “Inilah takdirku.” Jika ada seseorang yang sakit, kita akan mencoba segala macam jenis pengobatan padanya, dan ketika itu tidak berhasil kita akan mengatakan, “Pasti ini sudah takdirnya.”
Sebenarnya Tuhan pun seperti itu ketika memberikan putusan terakhirnya, ketika Dia mengatakan “Itulah nasibnya.”. Dia telah memberikan segalanya pada kita. Dia sudah menurunkan pada kita ke sembilan-puluh-sembilan sifat-Nya, dan hanya satu saja yang dia simpan untuk diri-Nya. Dia mengatakan, “Telah Aku berikan segala-galanya pada manusia, tapi manusia tidak memahami dan malah datang pada-Ku dengan membawa beban-beban neraka. Maka itulah yang akan aku jadikan sebagai nasibnya.” Maka Dia akan berkata lagi, “Kembalilah dengan semua yang kau bawa pada-Ku. Itu akan menjadi milikmu.”

Kita sendirilah yang menciptakan neraka atau surga untuk kita. Apapun dari diri kita yang kita tumbuhkan akan menjadi milik kita, dan hasil berupa keuntungan ataupun bencana, kita sendirilah yang mengusahakannya. Apakah kita harus mengambil neraka bagian demi bagian, kemudian mencoba untuk menghancurkannya? Tidak. Dorong itu semua dari jalan kalian, dan teruslah berjalan. Tidak perlu kita mencoba untuk menghancurkannya, majulah terus saja. Jika ada seekor anjing yang datang mencoba menggigit kita, kita menghindar dan berjalanlah terus. Buat apa kita berhenti dan menggigit balik anjing itu?
Sama seperti itu, jika ada setan mengikuti kita, katakan padanya untuk pergi, dan tetaplah berjalan. Jangan membuang-buang waktu dengannya. Dia hanya akan berteriak-teriak sebentar, tapi kemudian akan pergi. Dosa pun akan mengikuti kita sebentar, tapi jika kita tidak melihat kebelakang, maka ia pun akan pergi. Mereka akan berkata, “Ini bukan tempat kita,” lalu pergi. Akan ada banyak hal yang mengikuti kita selama waktu tertentu. Jika kita melihat kebelakang dan tersenyum lebar-lebar lalu menjadi senang karena kedatangan mereka, maka mereka akan terus mengganggu kita. Tapi jika kita tidak menghiraukan mereka, mereka akan pergi sambil berkata, “Gagal. Manusia ini mengalahkanku. Aku tidak dapat memasukinya.”
Seperti pelacur yang menari-nari untuk menangkap pandangan mata pria, seperti itu pula cara mereka mencuri perhatian kita. Mereka berdandan, menari, dan menangkap perhatian kita. Tapi jika kita langsung berpaling, jika kita punya iman, keyakinan dan tekad pada Allah yang Satu dan terus berjalan, mereka tidak akan mendekati kita. Mereka akan menjaga jarak. Tetapi, mereka akan mengikuti kita sebentar, tapi nanti mereka akan pergi meninggalkan kita.
Mereka hanya tertarik pada pikiran dan sifat-sifat tertentu yang buruk pada diri kita. Jika pada suatu saat mereka mencoba untuk mengikatkan diri pada sifat-sifat buruk kita, maka buanglah sifat buruk itu dan teruslah berjalan, maka mereka tidak akan mampu mempengaruhi kita. Mereka akan menjanjikan segalanya: emas, perak, wanita, istana, dan sebagainya. Mereka akan menggoda, “Lihatlah ini! Lihatlah itu!” Tapi jika kalian mengacuhkannya, mereka akan berkata, “Tidak ada yang bisa kita lakukan pada manusia macam ini.”
Jika kalian justru menyambut mereka, tersenyum dan memeluknya, dan merasa senang karenanya, maka mereka akan terus mengikatkan dirinya pada kita. Tapi jika kita halau mereka, mereka akan pergi. Jika ada anjing yang akan menggigit kita, teruslah berjalan. Kita tidak perlu berhenti untuk mencoba menggigitnya balik, karena dia justru akan benar-benar menggigit kita. Jika kita mencoba menakutinya, ia akan menggigit kita. Jika kita mengambil tongkat atau batu, ia tetap akan menggigit kita juga. Oleh karena itu, kita harus berdiri diam dan katakan padanya, “Hai anjing, untuk apa kau terus mengikutiku? Aku tidak pernah menyakitimu. Pergilah, dan lakukan apa yang sudah menjadi tugasmu!” Maka anjing akan pergi dan kita bisa terus berjalan.
Kita harus melakukan hal yang sama setiap kali ada sesuatu yang menangkap kita. Katakanlah, “Tidak, aku tidak akan tertarik. Tidak ada gunanya kau mengikutiku,” dan berjalanlah terus. Tidak perlu merasa takut. Jika kita tatap mereka tanpa rasa takut dan mengatakan, “Pergilah,” maka mereka pun akan pergi.
Anak-anakku, kita sendirilah yang menyiapkan surga atau neraka untuk kita kelak. Takdir kita ditulis oleh tangan kita sendiri, dan kelak kita yang akan memberikannya pada Tuhan, dan barulah setelah itu Dia akan menilainya dan memberikan putusan akhir. Dia berikan pada kita sembilan puluh sembilan sifatnya, dan berkata “Ini menjadi takdirmu. Pergilah dan laksanakan apa yang harus kau kerjakan dengan kesembilan puluh sembilan sifat ini, kemudian kembalilah. Jika dengan ini kau mengumpulkan kebaikan, maka engkau mengusahakan surga. Tapi jika kejahatan yang kau kumpulkan, maka kau mengusahakan neraka. Apapun yang engkau bawa kembali kelak, itu akan menjadi dasar putusan terakhirmu. Aku sendiri yang akan menjadikan keputusan itu sebagai penyempurna takdirmu. Aku serahkan keputusan akhir itu pada tanganmu (Al qada’ wal qadar). Pergilah, selesaikan takdirmu, dan kembalilah. Hasil akhir yang kau peroleh akan menjadi qadha dan qadarmu.”
Jika kita tidak menyadari ini, dan malah menyiapkan neraka bagi kita sendiri, maka Dia pun tidak akan menyiapkan surga. Dia tidak pernah mengatakan, “Apapun yang pernah Aku berikan padamu merupakan takdirmu!” Dia akan senantiasa merubah takdir kalian berdasarkan niat dan perbuatan kalian. Setiap saat kalian minta dimaafkan, Dia akan memaafkan saat itu juga. Setiap saat kalian menyesal dan pemahaman diri kalian bertambah, Dia akan memaafkan kalian. Seiring dengan kebutuhan kalian pada-Nya yang meningkat setahap demi setahap, Dia akan terus menghadiahkan pada kalian hal-hal seperti ini. Jika Dia telah menetapkan takdir bagi kalian terlebih dahulu, tentu Dia tidak akan terus-menerus memberikan maaf seperti ini. Dia telah memberikan kalian kemampuan untuk ber-taubat, dan Dia telah memberikan kalian ampunan-Nya. Karena Dia telah memberikan pada kalian keduanya, kesalahan sekaligus obatnya, maka tentu Dia akan mengampuni setiap kali kalian memintanya.
Lebih jauh lagi, jika takdir kalian telah ditentukan terlebih dahulu, maka kalian tidak akan diperintahkan untuk meminta. Kemampuan meminta dan memohon telah dipersiapkan-Nya khusus untuk kalian, maka tidak ada yang namanya ‘telah ditakdirkan terlebih dahulu.” Khusus bagi manusia, Tuhan telah menyiapkan kemampuan bertaubat, berusaha, dan pengampunan-Nya. Melalui ini semualah kalian bisa meraih kemenangan. Tidak boleh kalian mengatakan, “Semua telah ditulis, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan.” Kalian harus berusaha. Dia telah berikan pada kalian sembilan puluh sembilan sifat-Nya.
Mintalah, maka Dia akan memaafkan. Berharaplah dan Dia akan berikan. Minta dan berharaplah, Dia akan memaafkan dan memberikan. Jika kalian mengetuk, pasti Dia akan buka. Minta, maka akan diberikan. Dia pasti memberikan. Allah mengatakan, “Aku akan mengampuni. Mintalah ampunan, mintalah, dan akan Aku berikan yang kalian minta.” Jika Dia telah menuliskan takdir kalian sebelumnya, maka Dia tidak akan memberikan itu.
Tuhan akan menunggu, menunggu sampai kalian diletakkan dalam kubur. Dia menunggu hingga tibanya Hari Perhitungan, dan pada hari itu hanya Dia yang berhak mengajukan pertanyaan. Dan kalian sendirilah yang datang pada-Nya membawa kebaikan atau kejahatan. Seandainya Dia telah menuliskan semua hasilnya, maka tentu tidak ada gunanya kalian diperintahkan untuk mengumpulkan perbuatan baik. Untuk apa lagi Dia ada di sana, harus memberikan penghakiman? Dia ada di sana karena ada yang harus Dia pertimbangkan, Dia menunggu untuk melihat apa yang kalian bawa. Jika seandainya dia sudah menentukan neraka terlebih dahulu untuk kalian, mengapa Dia memerintahkan kedua malaikat di kanan dan kiri kalian untuk terus mencatat perbuatan kalian? Pahamilah, bahwa selama ada hal yang masih belum ditulis, berarti masih ada tempat untuk memperbaiki dan meminta ampun.
Allah menurunkan 124.000 Rasul. Jika semua telah ditetapkan-Nya sejak awal, untuk apa Dia mengirimkan 124.000 rasul? Mengapa mereka semua dikirim? Untuk siapa? Apa Tujuannya? Jika semua telah ditentukan hanya berdasarkan keinginan-Nya, dan semua harus terjadi sebagaimana yang dikehendaki, maka tidak ada gunanya semua Rasul itu diturunkan. Tidak ada alasan untuk merubah apapun.
Allah telah menciptakan pasangan ‘khairr dan sharr‘, baik dan buruk. Dia juga telah ciptakan ‘Al-Qada’ wal Qadar’. Tapi Dia menciptakan semua itu secara sedemikian rupa sehingga apapun yang terjadi merupakan hasil perbuatan manusia sendiri. Dia berikan pada manusia kemampuan untuk merubah apa-apa yang tidak baik. Apapun takdir yang akan manusia dapatkan, merupakan hasil dari niatnya, perkataannya, dan perbuatannya sendiri. Itulah yang telah Allah katakan. Itulah kata-kata Tuhan.
Al-Qur’an memang menyebutkan tentang takdir, tapi jika hanya mengutip kata-kata Qur’an sebenarnya tidaklah cukup. Ada orang yang mampu menghafal ke 6.666 ayat, tapi hanya menghafalkan tidak akan memberikan kebaikan apa-apa. Setiap huruf dalam Qur’an memiliki rahasia didalamnya. Kebenaran Tuhan ada di setiap hurufnya, sebagai sebuah rahasia di dalam rahasia, dan kita harus membuka setiap rahasia satu demi satu, maka barulah kita akan mengerti. Tapi merupakan hal yang mustahil untuk memahami isi Qur’an seluruhnya. Sampai kapan pun, bagaimanapun perubahan yang terjadi di dunia ini, Qur’an akan senantiasa ada, demikian pula rahasia-rahasia yang ada di dalamnya. Dan di dalam rahasia itu, masih ada rahasia lagi.
Qur’an mengandung hukum-hukum dan kata-kata Tuhan. Musim mungkin berubah, dunia mungkin berubah, tapi Tuhan dan kata-kata-Nya tidak akan berubah-ubah. Bergantung pada keadaan dunia pada saat itu, kata-kata dalam Qur’an akan terus menyesuaikan dirinya untuk saat tersebut. Maka, setiap kali seseorang membuka Qur’an, tidak peduli pada masa apapun ia sedang berada, dia akan bisa mendapatkan jawaban yang dia perlukan. Akan dia temukan penjelasan rahasia yang dia butuhkan. Tergantung pada tingkatan di mana dia berada ketika seseorang membuka Qur’an, dia akan menemukan Qadha wal Qadar yang paling sesuai bagi kondisinya, demikian pula semua takdir dan nasibnya.

Takdir. Then why are we here?

Tanya: Berapa banyak dari hidup kita yang sudah ditakdirkan, dan berapa banyak yang kita sendiri bertanggungjawab atasnya?

Bawa Muhaiyaddeen: Tuhan telah mengajarimu segenap hal. Segalanya tertulis di dalam dirimu. Sebelum engkau datang ke dunia ini, Dia mengatakan, “Aku mengirimmu ke sebuah sekolah bernama ‘dunia‘. Sebuah tempat sementara. Pergilah ke sana barang sebentar untuk belajar tentang ’sejarah’-Ku, sejarahmu sendiri, dan sejarah yang lain. Cari tahu siapa yang menciptakan semuanya ini, siapa yang bertanggungjawab atas semuanya ini, siapa Sang Penjaga yang melindungimu, dan apa yang menjadi milikmu sebenarnya. Jika engkau telah belajar dan paham seluruh sejarah ini, engkau akan tahu siapa dirimu dan siapa Dia yang engkau butuhkan, Dia yang sebenarnya, Dia yang akan hidup selamanya.

“Setelah engkau mempelajarinya, engkau akan menempuh sebuah ujian. Setelah itu, barulah engkau bisa membawa apa yang menjadi milikmu dan kembali ke sini. Jika engkau mengerjakannya dengan baik, engkau akan beroleh sebuah kerajaan yang dapat engkau kuasai selamanya. Tapi pertama-pertama, pergilah sekolah dan belajar. Lalu datanglah kembali.”

Tuhan mengatakan ini kepadamu dan mengirimmu ke dunia ini. Kini, tugasmulah untuk menemukan Dia kembali, mengenal dirimu sendiri, dan menyadari kekayaanmu yang sesungguhnya. Inilah alasan kedatanganmu di dunia ini. Maka, jadikan kebijaksanaanmu sebagai dua bilah gunting tajam dan buang potongan-potongan film yang salah. Dia telah memberimu semuanya, tapi engkau musti memotong semua gambar-gambar yang telah kau ambil dengan kameramu dan sisakan gambar yang baik, yakni yang menunjuk kepada Penjagamu. Satukan apa-apa yang baik itu dan buang yang lain. Maka, kerajaan-Nya akan menjadi milikmu.

* * * * * * * *

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA DAN ISINYA

Penciptaan 1
Terjemahan dari To Die Before Death karangan Bawa Muhaiyaddeen

Dahulu kala, masa ketika manusia belum tercipta, Tuhan telah membentuk kelima unsur: tanah, api, air, udara, dan eter. Masing-masing dengan kekuatan unik yang ada pada dirinya. Lantaran adanya kekuatan itulah, tiap unsur bangga akan keadaan dirinya. Sekalipun mereka tercipta karena Tuhan-lah yang mencipta, tiap unsur membual dengan angkuhnya, “Aku yang terbesar! Tiada yang menyamaiku!”
Maka, Tuhan pun berkata, “Akan Kusatukan kelima unsur ini untuk menghilangkan kesombongan mereka. Akan Kupakai cahaya Nur Muhammad untuk melakukannya. Akan Kucipta semua makhluk dengan porsi yang sama untuk setiap unsur ini, agar menyatu dan hilanglah keberbanggaan diri mereka.”
Setelah mencipta jin, makhluk-makhluk halus, bumi, langit, dan lain sebagainya, Tuhan pun mengambil Nur Muhammad dari dalam Diri-Nya sendiri. Tuhan berkata di hadapan seluruh makhluk-Nya, “Siapa di antara kalian yang mau menerima cahaya ini? Kalau ada, majulah ke depan.” Ketika cahaya-cahaya lain memandang kecemerlangan Nur Muhammad, mereka pun tercerap ke dalamnya.
Tuhan kembali bertanya, “Siapa yang mau maju untuk menerima ini?” Semua makhluk menjawab, “Wahai Sang Pencipta, Ya Rahmaan, Ya Tuhan, cahaya ini menyerap semua cahaya lainnya, bagaimana kami mampu menerimanya?”
Sekali lagi, Tuhan bertanya, “Adakah di antara kalian yang mampu membawa dan menerima Nur Muhammad-Ku?”
Maka, Tanah pun perlahan maju ke depan seraya berkata, “Hamba akan menerima cahaya ini.”

“Wahai Tanah, engkau telah menghancurkan dirimu sendiri,” suara Tuhan bergaung. “Engkau telah menyiapkan kejatuhanmu sendiri. Cahaya ini suci, sementara dirimu penuh kotoran, sampah, warna-warni, makhluk-makhluk, dan berbagai hal lain. Segalanya tumbuh pada dirimu. Maka bagaimana engkau bisa menerima sesuatu yang suci? Wahai Tanah, akan Kuberikan cahaya ini kepadamu, amanah ini. Namun ia milik-Ku. Engkau sungguh telah terburu-buru dalam menerimanya, dan itu berarti engkau telah menggali lubang kehancuranmu sendiri. Kini, pikirkanlah bagaimana engkau akan mengembalikan cahaya ini kepada-Ku seperti keadaannya semula. Kini kuberikan kepadamu, dan engkau harus menyerahkannya kembali kepada-Ku tanpa cacat barang sedikitpun.”
Dan Tuhan berkata, “Kelima unsur ini adalah awal dari ciptaan-ciptaan-Ku. Akan Kusatukan mereka di dalam tubuh setiap makhluk hidup. Tak ada yang berbeda, mereka akan menjadi unsur dasar dan pendukung bagi jasad makhluk-makhluk. Namun pertama-tama, akan Kusatukan mereka terlebih dulu. Akan Kuhancurkan keangkuhan mereka.” Maka, Tuhan pun menghadirkan Nur Muhammad dari Diri-Nya sendiri, memerintahkan cahaya itu untuk menemui setiap unsur dan membuat mereka mengucapkan kalimah — La ilaha ill-Allahu Muhammadur Rasulullah. Tiada sesuatu selain Engkau, Ya Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.
Nur Muhammad, yang sungguh gemerlap oleh cahaya yang benderang, bergerak menjalankan perintah Tuhannya. Pertama kali, Nur Muhammad melihat unsur Api dan mengucapkan salam kepadanya, seraya berkata, “As-salaamu ‘alaikum, wahai Api! Kekuatan apa yang engkau miliki?”
Api pun mulai membual, “Tak ada yang lebih hebat dariku. Tak ada yang lebih pintar dariku. Aku lebih kuat dibandingkan apapun jua. Akulah yang terhebat dan tak ada yang sebanding denganku!”
Dengan lemah lembut, Nur Muhammad menjawab, “Wahai, Api. Air dapat memadamkanmu. Ketika engkau hendak membakar sesuatu, Udara pun dapat mengusirmu dari tempat itu. Tanah menundukkanmu dengan debunya. Banyak hal dapat menghentikanmu. Oleh karena itu, bagaimana engkau dapat mengaku lebih hebat dari segalanya? Banyak yang lebih hebat darimu. Maka, apa dasar ucapanmu?
“Selain itu, wahai Api, Dialah yang telah menciptakanmu dan seluruh makhluk. Dialah Tuhan, Penciptamu. Ketika engkau membual dapat melakukan apa saja, engkau tak menyadari Dia dan kekuatan-Nya yang sesungguhnya. Pada kenyataannya, engkaulah yang terendah dari segala makhluk. Kekuatanmu adalah yang terlemah dari kekuatan lainnya. Tidakkah engkau memikirkan hal ini?”
Api pun menyerah, “Ucapanmu benar. Wahai Cahaya, kekuatan apa yang engkau miliki?”
“Aku tak memiliki kekuatan,” jawab Nur Muhammad. “Tiada daya dan kekuatan yang kumiliki. Aku adalah hamba dari Dia Yang Maha Kuat. Aku yang terendah dari segala makhluk, dan aku berada di dalamnya. Dia yang menciptakanku adalah Dia satu-satunya yang memiliki kekuatan. Aku mengakui-Nya sebagai Yang Maha Agung, dan aku adalah hamba-Nya. Wahai Api, sebut asma-Nya, hadapkan dirimu pada-Nya, percayalah pada-Nya, dan berimanlah dengan teguh kepada-Nya. Dia akan melindungimu. Segala sesuatu ada dalam genggaman-Nya.”
Api berkata, “Ucapanmu benar.”
Maka, agar kesatuan dan kasih sayang dipahami betul oleh Api yang akan menjadi salah satu unsur dasar kehidupan, Nur Muhammad memerintahkannya untuk menerima dan menyebut kalimah. “La ilaha illa-Allahu Muhammaddur Rasulullah. Tiada sesuatu selain Engkau, Ya Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah,” Api mengucapkannya tanpa ragu.
Selanjutnya, Nur Muhammad memandang unsur Air dan mengucapkan salam, seraya berkata, “As-salaamu ‘alaikum, wahai Air! Kekuatan apa yang ada padamu?”
Dengan angkuh, Air menjawab, “Aku benar-benar hebat! Tiada yang menyamaiku. Aku dapat menghancurkan dan mengendalikan apa saja yang kumau — hutan, tanah, gunung, dan pantai. Kujadikan laut menjadi pantai, pantai menjadi laut. Kuhanyutkan kota-kota, kuhancurkan seluruh dunia. Sungguh, aku mampu melakukan apa saja. Tiada yang menyamaiku.”
“Wahai Air,” jawab Nur Muhammad lembut, “banyak yang lebih baik darimu. Udara menyimpangkan aliranmu, mengombang-ambingkanmu ke sana kemari. Batuan dan gunung-gunung ditempatkan untuk menahanmu, menundukkan aliranmu. Bahkan, semua makhluk hidup akan memakaimu baik untuk hal-hal yang baik maupun yang buruk. Sebagian akan meminummu, sebagian yang lain akan menggunakanmu untuk mandi dan membersihkan diri, sebagian lagi akan membuang kotorannya dan mengotorimu. Engkau pun tergenang di waduk dan danau yang menjadi jorok dan bau. Cacing, belatung, dan binatang menjijikkan lain akan hidup berkembang di dalam dirimu. Engkau akan dibuat hilang kejernihanmu, dan menjadi jorok, menjijikkan, kotor dan bau. Umat manusia akan menampung dan memenjarakanmu ke dalam kolam-kolam dan dam. Makhluk-makhluk yang tak terhingga banyaknya akan hidup di dalam dirimu, dan mereka akan menggunakanmu untuk membersihkan diri mereka. Dengan demikian, apa dasar bualan dan keangkuhanmu? Begitu banyak yang lebih baik darimu!”
Air pun bertanya, “Wahai, Nur Muhammad. Kekuatan apa yang kau miliki?”
“Tak ada kekuatan pada diriku. Allah-lah satu-satunya yang memiliki kekuatan,” jawab Sang Nur. “Dia Yang Maha Kuasa. Dengan kekuasaan Ia mencipta segala sesuatu, semua energi dan makhluk hidup. Dia melindungi semua, dan Dialah yang mengendalikan dan berkuasa atas segala sesuatu. Dia Maha Kuat, Maha Besar. Aku hanyalah hamba-Nya. Aku tak punya kekuatan. Aku melayani segala makhluk ciptaan sesuai perintah-Nya. Aku beriman kepada-Nya. Allah, Yang Esa yang mengatur dan memelihara, adalah satu-satunya yang memiliki kekuatan. Aku beriman kepada-Nya, aku berserah diri kepada-Nya. Aku merendahkan diriku di hadapan-Nya, Sang Pencipta, Sang Pemelihara. Wahai, Air, percayalah kepada-Nya dengan seteguh-teguhnya, berimanlah dan bersujudlah kepada-Nya.”
Nur Muhammad kemudian memerintahkan Air untuk mengucapkan kalimah, dan Air pun melakukannya tanpa ragu, “La ilaha illa-Allahu, Muhammadur Rasulullah.”
Selanjutnya, Sang Nur memandang Udara dan mengucap salam kepadanya, “As-salaamu ‘alaikum, wahai Udara. Kekuatan apa yang kau miliki?”
Udara pun mulai menyombongkan diri, “Tak ada yang lebih kuat dariku. Aku memiliki kekuatan yang hebat. Tak ada yang bisa menghentikanku. Aku melakukan apapun yang kumau. Kuhancurkan hutan, kurobohkan pohon-pohon besar. Aku ini besar. Tak tertandingi!”

Nur Muhammad tersenyum dan berkata, “Wahai Udara, ada sekian banyak perintang yang mampu mengendalikanmu dan menghalangi kerusakan yang engkau lakukan. Gunung-gunung yang tinggi dan pohon-pohon besar merintangimu dan menghilangkan kekuatanmu dengan menyebarkanmu ke empat arah. Mereka menghalangimu. Dan di atas semua ini, Sang Pencipta menciptakan tanah, api, air, eter, dan dirimu. Lupakah engkau akan Dia? Bila Dia mau, Dia akan menundukkanmu dalam sekejap.”
“Kekuatan apa yang kau miliki, wahai Nur Muhammad?” tanya Udara.
“Aku tak memiliki kekuatan. Seluruh kekuatan ada pada Tuhan, Pencipta-ku. Aku adalah hambanya. Aku menerima-Nya, beriman dan berpegang teguh pada-Nya. Dia Yang Tertinggi, dan engkau pun musti berpegang teguh pada-Nya. Dia akan melindungimu.
“Wahai Udara, akan kaulihat wajah-wajah para makhluk, engkau akan mampu melihat mereka. Namun mereka tak akan bisa melihatmu. Tak satupun dapat mengagumi keindahanmu. Inilah kekuranganmu. Oleh karena itu, bagaimana engkau mengakui kehebatanmu?”
Udara menerima perkataan itu, dan Nur Muhammad pun memerintahkannya untuk mengucapkan kalimah. “La ilaha illa-Allahu Muhammadur Rasulullah,” Udara menyebutnya tanpa ragu.
Kemudian, Sang Nur memberi salam pada Eter, “As-salaamu ‘alaikum, wahai Eter. Kekuatan apa yang kau miliki?”
Eter pun membual, “Akulah yang terhebat dari semua. Aku memiliki gemerlap sinar-sinar dan warna. Tak ada yang sebanding denganku!”
“Dia Yang Esa lebih besar darimu,” jelas Nur Muhammad. “Dia memiliki kekuatan tak terbatas. Dia memiliki ramuan yang mampu membunuhmu di tujuh dunia. Dan Dia memiliki warna-warna tak terhingga. Allah-lah satu-satunya yang agung!” Nur Muhammad memerintahkan Eter untuk mengucapkan kalimah, “La ilaha illa-Allahu Muhammadur Rasulullah,” dan Eter pun menurutinya.
Akhirnya, Nur Muhammad menjumpai Tanah dan berkata, “As-salaamu ‘alaikum, wahai Tanah. Kekuatan apa yang kau miliki?”
Tanah menjawab, “Wahai Nur Muhammad, aku tak memiliki kekuatan. Tak ada daya dan kekuatan padaku. Allah satu-satunya Yang Agung. Dia Yang Terhebat dan aku tak memiliki kehebatan sedikitpun. Seluruh makhluk akan menginjak-injakku, meludahiku, dan menghinakanku. Mereka akan menggaliku, lalu membawaku dari tempat ke tempat. Kotoran dan najis, mayat dan sampah, akan dikubur di dalam diriku. Aku akan memikul semuanya ini. Oleh karena itu, aku yang terendah dari semua makhluk. Aku percaya pada Tuhan semata.”
Mendengar hal ini, cahaya Nur Muhammad itu berujar, “Engkaulah yang terbaik dari semua!” Dengan suka cita Sang Nur memeluk dan mencium Tanah.
Kemudian, Nur Muhammad berkata, “Wahai Tanah, Tuhan akan menciptakan makhluk-makhluk dari dirimu dan akan menumbuhkannya di dalam dirimu. Emas, air, api, udara, eter, berlian, logam, dan apa-apa yang berharga akan ditempatkan di dalam dirimu. Sifat-sifat yang indah, sabar, syukur, menahan diri, juga akan diletakkan di dalam dirimu. Engkau akan menjadi jasad sekaligus denyut nadi bagi seluruh kehidupan. Tuhan akan mencipta segalanya melaluimu. Dia akan menyebarkan kekayaan-Nya melaluimu dan memberi kedamaian bagi segala makhluk. Tuhan menawarkan anugerah yang tiada ternilai ini padamu. Engkau akan menjadi ibu dari makhluk-makhluk, ibu yang sabar bagi seluruh kehidupan, anugerah bagi ciptaan-Nya.” Tanah membalas ciuman Sang Nur, dan ketika mereka saling berpelukan, cahaya Nur Muhammad memasuki Tanah.
Itulah sebabnya pada hari ini, ketika sujud dalam shalat, kita menekankan dahi pada tanah, mengikuti Nur Muhammad. Setiap orang bersujud menundukkan tubuh ke tanah. Kita menggunakan tanah untuk seluruh kebutuhan hidup kita. Kita hidup di atasnya, tidur di atasnya, makan di atasnya, tumbuh di atasnya, dan menyerap berbagai manfaat darinya. Tuhan meletakkan energi dasar (shaktis) dan anugerah besar di dalam tanah.
Tanah pun bersaksi dengan kalimah, mengucapkan, “La ilaha illa-Allahu Muhammadur Rasulullah. Tiada sesuatu selain Engkau, Ya Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Engkau, Ya Allah, Maha Besar, Maha Tinggi. Aku mempercayai-Mu dan meletakkan kepercayaan kepada-Mu. Aku beriman kepada-Mu. Aku menerima Muhammad sebagai Utusan-Mu, dan aku menerima cahaya ini sebagai wakil-Mu, sebagai Sang Nur, khalifah-Mu. Aku menerimanya dan mengabdi pada-Mu dengan iman, keyakinan, keteguhan.”

Penciptaan 2
Bawa Muhaiyaddeen

Lama kemudian, Tuhan pun bermaksud menciptakan makhluk hidup. Melalui segenggam tanah, api, air, udara, dan eter, Dia membentuk jasad bagi makhluk-makhluk itu. Lalu Dia pun berkehendak mencipta manusia…
70.000 tahun sebelumnya, Dia telah menetapkan rizki, pemeliharaan (rizq) bagi manusia itu — pangannya, airnya, kekayaannya, kesenangan, kehangatan, dan segala hal yang diperlukannya. Bila jumlah makanan, air, api, udara, dan eter yang ditetapkan untuk seseorang itu telah habis, maka Izrail a.s., Sang Malaikat Maut, akan memanggilnya kembali. Inilah yang dimaksud dengan takdirnya (nasib). Manusia menghadapi takdir ini karena rizkinya, bagian pemeliharaan untuknya, telah ditetapkan sebelum kedatangannya di dunia.
Setelah mengadakan berbagai makhluk hidup, Tuhan pun mencipta manusia, dan Dia hendak menjadikan manusia sebagai makhluk paling tinggi, paling bijaksana di antara semua ciptaan-Nya yang lain. Dia telah menganugrahkan tiga tingkat kesadaran kepada makhluk-makhluk lain. Namun kepada manusia Dia menambahkan empat tingkatan lainnya: memilih/memutuskan, hikmah, qutb, dan gnanam. Semua ini diberikan kepada manusia agar ia dapat menjadi ayah, guru, sayyid, pemelihara, dan wakil Tuhan bagi seluruh makluk. Manusia dianugrahi sifat-sifat ini agar ia mampu memberi ketenangan dan kedamaian bagi makhluk-makhluk lain.

Lalu Tuhan memanggil Malaikat Jibril a.s. dan berkata, “Pergilah ke empat sisi, empat arah di dunia. Ambillah dari tiap sisinya sampai engkau peroleh segenggam tanah, lalu berikan kepada-Ku.”

Jibril a.s. pun patuh dan pergi menjalankan perintah itu. Cahaya Nur Muhammad telah memasuki Bumi ketika sebelumnya Sang Nur menciumnya, sehingga Bumi pun memiliki hikmah. Maka, ketika Malaikat Jibril a.s. hendak meraih sejumput tanah, Bumi itu menyeru, “Wahai Jibril, jangan ambil tanah dariku. Semua makhluk yang Tuhan ciptakan melaluiku akan tergelincir ke neraka. Mereka akan berdosa, merusak dan menghancurkan satu sama lain. Mereka akan menipu, membunuh, dan hidup dengan cara-cara yang haram. Mereka tak akan memahami kebenaran. Mereka akan hidup kaya dan bersenang-senang melaluiku dan melupakan Dia, Tuhanku, sehingga mereka jatuh ke neraka. Bila anak-anak yang tercipta melaluiku itu jatuh ke neraka, tak kan sanggup aku memikulnya. Sungguh akan sangat menyiksa dan menyedihkanku bila anak-anakku berakhir di neraka. Oleh karena itu, aku mohon kepadamu, dengan nama Tuhan, janganlah kau ambil tanah dariku!”
Mendengar ini, Jibril a.s. pun meletakkan tanah itu kembali dan pergi menemui Tuhan, menceritakan semua yang dialaminya. Maka Tuhan mengutus Malaikat Mikail a.s. untuk mengumpulkan tanah dari keempat sisi itu. Namun hal yang serupa terjadi pada Mikail a.s. dan ia kembali menghadap Tuhan. Kemudian Malaikat Israfil a.s. diutus, namun ia pun kembali dengan cara yang sama.

Sampai akhirnya, Tuhan mengutus Sang Malaikat Maut, Izrail a.s. Ketika Izrail a.s. mengambil tanah dari keempat sisi dunia, Bumi melarangnya, “Dengan nama Tuhan, aku mohon padamu, jangan kau ambil tanah dariku!”

Namun Izrail a.s. bersikeras, “Adukan itu kepada Dia yang engkau telah bersumpah dengan nama-Nya! Dialah yang telah memerintahkanku mengambil tanah ini. Adukan itu kepada-Nya!” Izrail a.s. pun meraih segenggam tanah dari keempat sisi dan pergi menghadap Tuhan.

Lalu, suara Tuhan terdengar, “Bawalah segenggam tanah itu ke Karbalaa’, titik pusat dunia.” Izrail a.s. pun pergi dan meletakkan segenggam tanah itu di tempat yang diperintahkan-Nya.
Orang berkata bahwa Karbalaa’, titik pusat dunia, berada di antara Jerusalem dan Jeddah. Mereka mengatakan bahwa disinilah Adam a.s. dicipta. Namun ada suatu pemaknaan lain: bahwa segenggam tanah itu, Karbalaa’ itu, adalah juga hati (qalb) manusia. Di dalamnya, Tuhan mengatur dan memelihara 18.000 alam dan 15 lapisan. Dia meletakkan semua ini di dalam sirr (rahasia) manusia. Di sinilah peperangan manusia itu terjadi, di hati ini — di segenggam tanah ini.
Ketika segenggam tanah diambil, Tuhan berkata, “Wahai Bumi, engkau benar. Akulah yang menciptakanmu, dan Aku akan menciptakan banyak makhluk melaluimu. Aku akan mengeluarkan aturan dan bagian-bagian yang telah ditetapkan (nasib). Dan bagi tiap-tiap makhluk yang kuciptakan melaluimu, Aku akan membuat jasadnya, hidupnya, makanan dan pemeliharaan yang cukup. Aku sendiri yang akan menjadi Hakim. Bismillahir Rahmaanir Rahiim — untuk segenggam tanah itu, Aku-lah yang akan menjadi Pemelihara dan Pelindungnya. Aku-lah yang akan menjadi Penguasa, Pengatur, dan Badushaah-nya. Seperti halnya Aku adalah Pencipta dan Raja bagimu, Aku pun akan menjadi Raja, Rabb (Tuhan) bagi siapa yang akan kuciptakan melaluimu, dan Aku sendiri yang akan menjadi Pelindungnya.

“Wahai Bumi, Aku bertanggungjawab atas penciptaan, perlindungan, pemeliharaan, dan pemberi kedamaian bagi seluruh ciptaan-Ku. Aku akan menjadi Hakim, Aku yang akan menjatuhkan keputusan akhir, dan Aku akan bertanggungjawab atas Hari Kebangkitan dan kehidupan di Akhirat. Bukan engkau. Maka, tak usah engkau merasa terbebani olehnya. Aku yang akan menetapkan takdir bagi setiap yang hidup. Dengan takdir dan kesepakatan, akan ada pembatasan dan sebuah hari sebagai hari kematian sesuai pembatasan itu. Dan setelah kematian, akan ada penentuan, keputusan baginya. Ia akan dibangkitkan di hari kebangkitan, hari diajukannya pertanyaan, dan dijatuhkannya keputusan. Dari hasil diajukannya pertanyaanitu, Aku akan menciptakan surga dan neraka.

“Aku-lah yang akan menempatkan di dalam tiap-tiap manusia ketetapan tentang apa-apa yang halal dan haram, baik dan buruk (khair dan sharr), rahasia dan perwujudannya (sirr dan sifaat). Aku-lah yang memberi semua ini, dan Aku yang akan menjatuhkan keputusan akhir. Aku akan menganugrahkan kerajaan yang sesuai bagi tiap-tiap diri, sesuai dengan sikap dan perilakunya. Bila ia berlaku baik, maka ia akan memperoleh kerajaan surga-Ku. Bila ia berlaku buruk, ia akan mendapatkan kerajaan neraka-Ku. Aku-lah Sang Penguasa surga dan neraka. Aku Raja dari tiga dunia — dunia jiwa, dunia ini, dan dunia akhirat. Engkau tak bertanggungjawab atas semua ini, Wahai Bumi. Tak perlu engkau khawatir atau bersedih akan hal ini. Aku-lah yang menciptakanmu dan menganugrahkan bagimu kekuatan yang besar, kemenangan, dan kekayaan. Dan Aku-lah pula yang akan menyebarkan semua kekayaan ini, bukan engkau.

“Namun, segenggam tanah yang kuambil darimu itu adalah ‘hutang’. Tanah itu milikmu. Tanah itu diberikan kepadamu. Makhluk hidup yang akan Kucipta melaluimu akan memperoleh pemeliharaan darimu, hidup dan tumbuh pada dirimu. Aku akan menggunakanmu sebagai jasad mereka. Mereka akan meminum airmu, menggunakan api dan udaramu, dan memakan segala yang tumbuh darimu. Inilah ‘kekayaan bersama’ yang Kuberikan kepadamu. Aku telah menganugrahkanmu tanah, api, air, udara, dan eter untuk digunakan bersama oleh semua ciptaan-Ku. Seperti itulah Aku akan mencipta, dan engkau haruslah senantiasa menyediakan dirimu bagi mereka, tanpa pilih kasih.

“Semua ciptaan, bahkan burung dan hewan-hewan, akan terikat pada kelima elemen ini. Barangsiapa sanggup memutus ikatan-ikatan ini dan mengenal-Ku ketika ia tumbuh dan berkembang, barangsiapa melakukan ini dan sujud mengabdi pada-Ku, Aku akan ’sujud mengabdi kepadanya’. Barangsiapa mencintai-Ku, Aku akan mencintainya. Barangsiapa mendekat selangkah pada-Ku, mencari-Ku, Aku akan mendekat sepuluh langkah padanya. Barangsiapa memanggil nama-Ku sekali, Aku akan memanggil namanya sepuluh kali. Barangsiapa memuji-Ku sekali, Aku akan memujinya sepuluh kali.

“Tak terhitung banyaknya mulut, telinga, mata, hidung, dan tangan yang ada dalam diri-Ku. Dengan telinga itulah Aku mendengarnya. Dengan matanya, Aku melihatnya. Dengan mulutnya, Aku berbicara dengannya. Dengan tangannya, Aku menuntunnya. Inilah rahmat-Ku. Oleh karena itu, wahai Bumi, janganlah bersedih. Inilah sebabnya kenapa Kutetapkan apa yang disebut sebagai takdir, inilah kenapa Kutetapkan batasan dan kadar, sebuah kesepakatan, pada seluruh makhluk hidup. Aku akan memanggil kembali setiap makhluk sesuai dengan kesepakatan itu.

“Wahai Bumi, melalui segenggam tanah sebagai pinjaman darimu ini, Aku melipatgandakan manusia seribu kali, dan Aku perintahkan mereka mengembalikan seribu genggam tanah itu pula kepadamu. Ini ‘hutang’-Ku, kewajiban yang akan Aku emban. Ketika kesepakatan manusia telah berakhir, Aku bayar ‘hutang’-Ku ini kepadamu. Kuambil segenggam tanah ini darimu, dan bila seorang manusia tak mengembalikannya kepadamu, maka hal ini akan menjadi tanggungan besarnya di Hari Penentuan. Dia akan terhukum. Aku akan mengembalikan setiap manusia ke tempat yang sama di mana segenggam tanah itu diambil untuk menciptakannya. Akan Kuletakkan setiap jasad di tempat yang semestinya, dan akan Kuraih jiwanya. Aku akan melakukannya sesuai kesepakatan dan kadar tiap orang. Oleh karena itu, wahai Bumi, jangan kau khawatirkan dirimu tentang hal ini. Karena alasan inilah Aku perintahkan Izrail untuk meletakkan segenggam tanah itu di titik pusat, Karbalaa’. Inilah hati, dan di dalamnya terdapat rahasia. Tak perlu kau khawatirkan tentang hal ini.”

Tuhan menyimpan segenggam tanah itu di Karbalaa’ selama 70 tahun, di mana Ia menurunkan hujan 7 tahun lamanya demi memperbanyaknya. Lalu Ia pun mengambil tanah itu dan membentuk jasad bagi Adam a.s. Beberapa lama kemudian, karena Bumi dan Nur telah bersatu, Tuhan menerangi cahaya Nur Muhammad di dahi Adam a.s. Titik ini disebut sebagai mata kebijaksanaan: kursi. Sekalipun mata kita tertutup, bila kita membuka mata yang lain, mata rahmat Tuhan, mata kebijaksanaan ruhani dan pengetahuan (gnanam dan ilm) maka kita akan mampu melihat segalanya. Seseorang yang berada di tingkatan ini akan memiliki keindahan. Ia pun akan dikenal sebagai Suratul Insan, Suratul Qur’an, atau Suratul Fatihah.

Penciptaan 3
Bawa Muhaiyaddeen

Kala itu, ketika Tuhan menciptakan Adam a.s., iblis tinggal di surga sebagai raja para jin. Ia dipanggil dengan sebutan “Abu”. Lalu ia datang, ditemani seribu pengikutnya, melihat apa yang sedang terjadi. Ketika iblis melihat Adam a.s., ia menyaksikan betapa indahnya makhluk itu. Berkat cahaya yang ada di dalamnya, Adam a.s. menjadi begitu indah, bersinar.

Adam a.s. pun menatap seksama kepada iblis. Lalu iblis berkata dengan angkuhnya, “Wahai Adam, adakah engkau manusia itu yang Allah ciptakan? Engkau hanya terbuat dari tanah, namun seperti itukah engkau menatapku? Tatapanmu membuatku bergidik! Bila Tuhan menempatkanmu di bawahku, di bawah kekuasaanku, aku akan menolongmu dengan cara apapun yang kumampu. Tapi kuperingatkan kau, bila Dia menempatkanmu di atasku, maka aku akan melakukan apa saja demi menyiksamu.”

Maka wajah yang bersinar penuh cahaya itu pun menatap semakin tajam kepada Abu, dan iblis pun membentak kasar, “Beraninya kau menatapku seperti itu, kau hanya terbuat dari tanah!” Iblis meludahi Adam a.s. Maka, begitu ludah itu tepat mengenai perut Adam a.s., racun yang terkandung di dalamnya pun mulai menyebar ke seluruh tubuhnya. Tempat jatuhnya ludah itu menjadi tanda lahir baginya.

Menyaksikan kejadian itu, Tuhan berkata kepada Jibril a.s., “Wahai Jibril, pergilah kepada Adam. Iblis telah meludahi ciptaan-Ku yang suci. Racun iri, sombong, dan serakahnya telah memasuki Adam dan mengotorinya. Pergilah dan ambillah racun itu.” Dengan seketika, Jibril a.s. pun berada di tempat itu. Maka dengan kedua jarinya, Jibril a.s. mencongkel secuil tanah di mana ludah itu tepat mengenai perut Adam a.s. Bekas congkelan itu kini menjadi pusar di perut manusia, dan merupakan satu di antara 28 huruf pembentuk jasad manusia.

Satu huruf yang diambil dari jasad Adam a.s. itu diberikan kepada seekor anjing, dan diletakkan pada mahkota kepalanya. Ketika Adam a.s. menerima jiwa, lalu bangkit, anjing pun bangkit. Karena satu huruf di kepalanya itu, anjing menjadi hewan yang penuh rasa syukur. Ia dapat hidup bersama manusia dan mengikutinya. Ia mampu mendegar kata-kata dan mencintai pemiliknya. Namun, terkecuali di atas kepalanya itu, yang tak tersentuh itu, seluruh bagian jasadnya yang lain adalah najis, kotor, penuh dengan hawa nafsu dan sifat-sifat iblis lainnya.

Tuhan lalu meletakkan jiwa ke tubuh Adam a.s. Jiwa itu dimasukkan melalui ujung atas mahkota kepalanya, atau ‘arsy, dan turun ke seluruh tubuhnya. Perlahan, otak pun melalui berfungsi, namun seluruh bagian tubuhnya yang lain masih bersifat tanah/bumi. Lalu jiwa itu turun menyentuh matanya, maka mata itu pun melihat. Turun menyentuh hidung, dan hidung dapat mencium. Menyentuh telinga, dan hidung pun mendengar. Turun menyentuh lidah, dan Adam a.s. pun kini mampu berkata-kata. Saat itu, walau ia baru setengah jadi, dan jiwa itu baru memasuki dadanya, Adam a.s. menggeliat dan mencoba menekan dirinya dengan kedua tangannya.

“Wahai Adam, bersabarlah,” Tuhan berkata, “Lihatlah, engkau masih setengah jadi. Setengah tubuhmu adalah daging dan tulang, sementara yang lainnya hanyalah tanah tak berbentuk. Sekalipun demikian, engkau terburu-buru hendak bangun. Inilah tanda bahwa manusia akan menjadi makhluk yang tak penyabar. Sungguh ia akan menjadi makhluk yang terburu-buru!” Lalu Adam a.s. bersin, dan jiwa itu pun meresap dan turun ke seluruh tubuhnya.

Beberapa saat kemudian, Tuhan memerintahkan para malaikat untuk mengundang Adam a.s. ke surga. Di sana Tuhan memanggil para utusan, makhluk-makhluk terang (awlia) dan semua warga surga, dan Tuhan berkata, “Aku menciptakan Adam sebagai pemimpin. Berdirilah di belakang Adam dan sujud pada-Ku.” Mereka menuruti perintah itu, kecuali iblis dan seribu pengikutnya.

Melihat hal ini, Tuhan dengan tegas memerintahkan iblis, “Wahai Abu, berdirilah di belakang Adam dan sujud pada-Ku!”
Namun setan menjawab, “Ya Tuhan, hamba tahu bagaimana bersujud pada-Mu. Namun hamba tak akan menyembah-Mu di belakang Adam. Ia dicipta dari tanah, sementara hamba dari api, maka hamba tak mungkin berdiri di belakangnya.”
“Manusia bersujud pada-Ku. Berdirilah di belakangnya dan sembah Aku!” Tuhan memerintahkannya lagi.

Namun iblis bersikeras menolak, “Hamba tak akan berdiri di belakangnya.”

Sekali lagi Tuhan menyeru, “Wahai yang terkutuk, sembah Aku dan berdirilah di belakang Adam.” Namun iblis tetap menolak.

Akhirnya Tuhan mengutuk iblis, seraya berkata, “Wahai mal’uun (yang terkutuk), engkau yang terusir! Tak ada tempat bagimu di sini. Aku mengirimmu ke neraka.”

“Hamba siap ke neraka,” jawab iblis. “Adam adalah musuh hamba.

Maka sebelum hamba pergi, ijinkan hamba untuk menghancurkan Adam dan seluruh pengikutnya!”

“Siapapun yang mengikuti-Ku tidak akan mengkutimu, dan siapa saja yang mengikutimu tak akan mengikuti-Ku,” Tuhan menjawab.

“Jika engkau berniat menghancurkan siapa yang berserah diri pada-Ku, maka engkau akan tertolak dalam hina. Kekuatanmu akan luluh. Engkau tak mampu menghancurkan pengikut-Ku tanpa ijin dari Ku. Engkau tak memiliki kekuatan untuk menghancurkan mereka yang berserah diri pada-Ku. Sekarang, pergilah!”

Iblis meminta lebih banyak, “Ijinkan hamba untuk menghilangkan bentuk hamba dan menyelusup ke dalam manusia, dimana pun ia berada, dan menghancurkannya dari dalam dan luar.”

“Engkau hanya mampu berada di kegelapan, engkau tak akan mampu berada di tempat yang penuh cahaya. Jika engkau masuk ke diri seseorang yang hidup dalam keberimanan kepada-Ku, maka engkau akan terusir dalam kehinaan. Pergilah engkau, iblis!”
Namun iblis bersikeras, “Tak peduli seberapa banyak hamba akan gagal, hamba akan selalu mencoba. Bahkan pada detik terakhir kehidupannya di bumi, hamba akan sekuat tenaga menariknya ke dalam api hamba, membuatnya tak bisa membayar hutangnya pada-Mu. Bila segala cara telah gagal, inilah yang hamba lakukan!”

“Wahai yang terhina,” suara Tuhan menggelegar, “siapapun yang mengikuti-Ku akan hidup di bumi dan mengembalikan kehidupannya kepada bumi. Namun siapapun yang mengikutimu, akan hidup dalam api, berakhir dalam api dan tak kan mampu membayar hutangnya kembali kepada tanah. Barangsiapa menikmati kegelapanmu dan menumbuhkan sifat-sifat marah, dengki, iri, mencela, prasangka, sombong, karma, maya (ilusi), perilaku buruk, bohong, berbangga diri, balas dendam, dan siapapun yang percaya pada kekayaan dan iming-iminganmu pada neraka, maka ia akan berakhir di neraka. Bahkan sekalipun ketika ia hidup dalam jasadnya, kehidupannya akan terbakar oleh api neraka. Ia akan hidup dalam kenestapaan yang besar dan berakhir dalam apimu.

“Namun jika ia hidup bersama-Ku, jika ia berniat mendekat pada-Ku dan menumbuhkan sifat-sifat kesabaran, syukur, tawakkal kepada-Ku, dan menghaturkan puji-pujian kepada-Ku, jika ia melayani seluruh makhluk hidup seperti halnya ia melayani dirinya sendiri, menumbuhkan 30.000 sifat kasih sayang-Ku dalam dirinya dan mengasihi seluruh makhluk, ia akan mewarisi kerajaan-Ku. Namun ia yang mensifati dirinya dengan sifat-sifatmu akan selamanya menjadi korban api neraka. Baik dalam hidup maupun matinya, ia akan terbakar dalam api. Sekarang, keluarlah engkau, setan!”

Setan dan seribu pengikutnya pun terusir dari surga dan hadir di bumi. Sekalipun begitu, setan tetap mampu terbang ke tujuh tingkatan surga dan melakukan tipu dayanya. Di bumi, ia memiliki kekuatan berkata-kata melalui patung, batu, dan berhala. Di masa Namrud dan Firaun, ia menggunakan kekuatan ini dan mengakibatkan berbagai kesulitan bagi anak-anak Adam a.s. di Mesir dan Jerusalem. Tuhan mengirim utusan-utusan, satu demi satu, demi menepis kekuatan setan, dan akhirnya, melalui Rasul Muhammad s.a.w., kekuatan berkata-kata melalui berhala telah dihancurkan dan dilepas darinya.

***********

Anak-anak, Bersikaplah dengan Baik

Oleh M. R. Bawa Muhaiyaddeen
Artikel diterjemahkan oleh Dimas Tandayu

Cintaku, cucuku, putra dan putriku, anak-anakku. Mendekat dan duduklah. Setiap dari kamu melihat kepadaku dan dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan. Engkau harus belajar bagaimana untuk bertingkah laku dengan baik.
Pertama engkau harus memikirkan apa yang baik dan apa yang buruk, kemudian engkau harus menyingkirkan apa yang buruk dan hanya melakukan apa yang baik. Rasakan bagaimana rasa dari perbuatan baik tersebut. Dan jika seseorang melakukan suatu kebaikan kepadamu, engkau harus membalas kebaikannya kembali. Tetapi jika seseorang melakukan suatu keburukan kepadamu, cukup lupakanlah. Jangan membalas perbuatannya.
Lebih lanjut, cucuku, engkau harus selalu menghormati ibu dan ayahmu. Tidak saja harus menghormati mereka, engkau juga harus mematuhi mereka. Jika seseorang usianya sedikit lebih tua darimu, maka engkau harus memperlakukan ia seperti kakakmu. Jika seseorang usianya jauh lebih tua darimu, engkau harus menghormatinya seperti ayahmu. Jika seseorang usianya lebih muda darimu, engkau harus menunjukkan cinta dan kasih sayang dan rangkul ia di bawah sayapmu layaknya seorang adik atau anakmu. Engkau harus menghormati dia. Bahkan kepada sapi, kambing, dan binatang lainnya, engkau harus menunjukkan cinta dan kasih sayang. Melalui hidupmu engkau harus menunjukkan tiga ribu sifat-sifat pengasih Tuhan kepada setiap orang. Engkau harus melakukan kewajibanmu dan menghormati mereka yang lebih rendah sebagaimana engkau menghormati mereka yang lebih tinggi. Engkau harus melakukan ini tanpa diskriminasi dan tanpa memperhatikan status mereka di dalam kehidupan.

Kewajiban apapun yang engkau lakukan kepada orang lain, engkau harus melakukan kewajiban tersebut dengan cinta, belas kasih, kebenaran, dan dengan hati yang terbuka. Jangan melakukannya dengan mementingkan dirimu sendiri atau keterikatan, dan jangan mengharapkan imbalan. Dimanapun engkau membantu seorang anak kecil atau orang dewasa, jangan mengharapkan bantuannya kembali. Tunjukkan mereka kasih sayang, dan ketika pekerjaanmu selesai, pergilah dengan bahagia.
Engkau jangan pernah memiliki pikiran, “Aku melakukan ini untukmu, jadi apa yang bisa engkau lakukan kepadaku sekarang?” Jangan pernah mempunyai pikiran seperti itu. Jika engkau menolong seseorang dan mengharapkan imbalan, maka engkau adalah orang yang mementingkan diri sendiri yang melakukan perbuatan egois, dan setiap bantuan, kasih sayang, atau kebenaran yang engkau berikan akan berbalik menyakiti dirimu. Hal itu akan mengumpulkan keburukan kepadamu. Jika engkau memberi pertolongan dengan cara seperti itu, hal itu adalah jahat, tidak baik. Engkau selayaknya tidak pernah berada dalam keadaan seperti itu. Imbalanmu datang dari bantuan yang engkau berikan, bukan dari orang yang engkau bantu. Adalah tanggungjawabnya, bukan tanggungjawabmu, untuk mengingat bantuan yang telah ia dapatkan. Engkau selayaknya hanya menyelesaikan pekerjaanmu kemudian pergilah. Adalah salah jika mengharapkan imbalan.
Cucuku, engkau seharusnya jangan pernah marah. Kemarahan adalah pembimbing dari dosa. Kemarahan akan membimbingmu menuju jalan dosa dan membawamu langsung ke neraka. Kebencian akan memakan kebaikanmu, kebijaksanaan sejati. Ketidaksabaran adalah musuh dari kearifanmu. Semua kemegahan itu bukanlah emas. Jangan pernah berpikir seperti itu ketika engkau melihat kebenaran. Sebuah pot emas tidak membutuhkan dekorasi, sebagaimana juga sebuah hati yang penuh dengan kebenaran. Kebenaran tidak butuh penghias.

Jika engkau memiliki kearifan sejati, engkau tidak perlu menerapkannya pada setiap tindakan. Setiap perkataan yang engkau ucapkan akan penuh dengan keindahan, cinta dan belas kasih. Kata-kata tersebut akan terasa manis dan bermartabat di setiap perkataannya. Jika kearifanmu muncul dari kebenaran, maka kearifan itu akan menjadi indah. Tidak di perlukan hiasan lagi. Jadi tidak lagi berbicara dengan kata-kata yang engkau ambil di sini, di tempat lain, atau dari bacaan pada buku-buku. Perkataanmu akan muncul secara otomatis dari dalam hatimu dan mengungkapkan kebenaran. Cukup hanya berbicara kebenaran. Tidak perlu lagi membubuhinya dan membuatnya berkesan.

Cucuku, jangan mencuri. Jangan engkau berbohong kepada kedua orang tuamu karena takut kepada mereka. Katakan kebenaran kepada mereka dengan belas kasih. Katakan, “Aku berbuat kesalahan. Tolong maafkan aku atas apa yang aku lakukan.” Pertama bermohonlah kepada Tuhan untuk memaafkanmu, lalu bermohonlah kepada kedua orang tuamu untuk memaafkanmu. Selanjutnya, mohon maaflah kepada setiap orang yang telah engkau sakiti. Jika engkau menyadari kesalahanmu dan bertobat, dosamu akan dihapus. Tetapi jika engkau tidak menyadari kesalahanmu, jika engkau tidak memohon maaf, dosa itu akan tetap bersamamu.

Jangan mengatakan sesuatu untuk menyakiti orang lain, selalu berbicara dengan belas kasih. Pandanglah orang lain dengan cinta dan kasih sayang; jangan melihat mereka sebagaimana harimau melihat. Jangan memunculkan pertengkaran dengan orang lain; cobalah untuk hidup bersama mereka dengan penuh cinta, kasih sayang, kepercayaan dan kedamaian.

Jangan pernah menyimpan permusuhan dengan orang lain di dalam hatimu. Singkirkan permusuhan dan segala bentuk sifat jahat di dalam dirimu. Jangan berpegang kepada keraguan, keraguan adalah penyakit yang parah. Buang hal itu. Buang segala bentuk kecurigaan yang engkau miliki kepada orang lain. Mereka adalah saudaramu. Hiduplah tanpa prasangka. Hal itu akan membuatmu bahagia. Hal itu akan menjadi surga bagimu.

Jangan menyakiti, menyiksa, atau menyebabkan penderitaan kepada mahluk hidup apapun. Bahkan seekor kerbau yang menarik kereta harus di perlakukan dengan penuh kasih sayang. Jangan memberi beban melebihi batas yang bisa ia angkut. Kemudian, ketika engkau di beri beban yang begitu berat bagimu, bisakah engkau membawanya? Apakah sulit bagimu? Lalu pikirkan penderitaan yang engkau sebabkan pada kerbau ketika mengangkat beban melebihi kemampuannya. Cucuku, engkau harus mengetahui kapasitas setiap tubuh dan mengetahui kapasitas keadaan seseorang. Hanya dengan begitu engkau bisa memberikannya pekerjaan yang sesuai, memperlakukannya dengan hormat, dan melindunginya.

Ketahuilah sifat-sifat pada hati setiap orang lalu layani mereka. Tetapi pertama, cobalah untuk mengetahui hatimu. Hanya dengan begitu engkau baru akan mengerti hati orang lain. Jika engkau telah mengerti hal itu, maka perkataan apapun yang engkau katakan dan kewajiban apapun yang engkau lakukan akan menjadi sebuah tanggungjawab sejati, tanggungjawab Tuhan selamanya. Jika engkau berada dalam keadaan seperti itu, kasih sayang yang engkau berikan kepada setiap orang akan menjadi kasih sayang Tuhan yang sempurna. Di dalam setiap situasi, lakukan kewajibanmu dengan pemahaman ini.

Permata indah yang menyinari mataku, cucuku, putra dan putriku, anak-anakku, ketika engkau pergi ke sekolah, perhatikan apa yang engkau pelajari. Jangan perhatikan apa yang orang lain perbuat. Jangan menghabiskan waktu dengan melihat hal lain. Konsentrasi pada apa yang engkau lakukan saat ini. Hanya hal ini yang seharusnya engkau pikirkan sampai engkau menyelesaikannya. Jika engkau pergi melakukan solat, konsentrasilah pada solat. Jika engkau membaca buku, konsentrasilah pada buku itu. Jika engkau memiliki pekerjaan lainnya, fokus kepada pekerjaan itu. Konsentrasi secara penuh dengan kearifanmu. Niatkan untuk melakukan apapun dalam keadaan seperti ini, dan lakukan segala sesuatu atas nama Tuhan.

Cucuku, jangan dengarkan apa yang di katakan orang lain. Jangan mendengarkan untuk mencari tahu apakah mereka membicarakan tentang engkau atau diriku. Di dunia ini begitu banyak percakapan dan begitu banyak ketidakpedulian (1). Jangan memberi telingamu kepada suara dunia, suara dari ketidakpedulian. Berikan telingamu kepada suara Tuhan. Miliki cinta atas kewajiban yang harus engkau lakukan dan berikan telingamu kepada kewajiban itu.

Permata indah yang menyinari mataku, lakukan setiap kewajibanmu dengan cara yang baik, tanpa memperhatikan pada dunia yang berada di dalam dirimu (2). Di dalam hal ini, lakukan tindakan yang tidak terbatas yang engkau lakukan setiap harinya. Ketidakpedulian, ilusi, dan setan selalu memainkannya di dalam dirimu (3). Hilangkan permainan yang terjadi di dalam. Dan lupakan mengenai permainan yang terjadi di dunia luar (4).

Cintaku, cucuku. Setiap dari kamu sebaiknya memikirkan hal ini. Selalu menyingkirkan apa yang buruk, simpan apa yang baik, dan bertingkah laku menurut yang baik. Raihlah sifat-sifat, Tindakan, dan sikap Tuhan dan singkirkan semua sifat-sifat yang lain.

Cucuku, jika engkau tumbuh di dalam keadaan dari kebaikan, engkau akan menjadi anak-anak Tuhan (5). Engkau akan hidup sebagai anak yang baik di dalam hidup ini, dan engkau akan di butuhkan baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Tuhan akan menerimamu sebagai anak-anak dari keimanan dan kebenaran. Engkau akan menerima kebaikan-Nya, dan melalui kebaikan-Nya tersebut engkau akan memperoleh keuntungan selamanya.
Hiduplah sebagai anak yang baik kepada segala sesuatu dan sebagai anak yang baik kepada Tuhan. Bijaklah kepada hatimu dan bijaklah kepada kearifanmu.
Cintaku, cucuku. Pikirkan hal ini dan lakukan hidupmu di dalam cara ini. Amin. Semoga Tuhan membantumu.
M. R. Bawa Muhaiyaddeen
Come to the Secret Garden: Sufi Tales of Wisdom
Tambahan sedikit dari saya:
1)Diterjemahkan dari kata “ignorance”. Saya mengartikannya dengan ketidakpedulian. Maksud dari ketidakpedulian disini adalah orang-orang yang tidak perduli terhadap kebenaran. Orang-orang seperti itu disebutkan didalam Al-Quran sebagai: “Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta.” (QS 25:73)
2) Maksudnya adalah hati tidak boleh bergantung kepada hal-hal duniawi.
3) Setan membuat diri manusia agar selalu tertarik kepada ketidakpedulian dan ilusi dari kesenangan duniawi.
4) Adalah kesenangan-kesenangan yang ada di dunia yang jika tidak disikapi dengan bijak akan menjauhkan kita dari Tuhan.
5) “anak-anak Tuhan” bukanlah suatu bentuk fisik. Metafora ini di gunakan untuk mengambarkan “rasa” dari sebuah hubungan. Hubungan Tuhan dengan hambaNya bisa di gambarkan bagaikan hubungan ibu dengan anak-anaknya. Sebagaimana seorang ibu mencintai anak-anaknya, menyayanginya, merawat, membesarkan, mengajarkan arti hidup, dll. Tuhan pun melakukan hal yang sama.

Bermanfaat Bagi Semuanya

Oleh: M. R. Bawa Muhaiyaddeen
Diterjemahkan oleh: Dimas Tandayu

Bismillahir-Rahmanir-Rahim: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Anakku yang mulia, cahaya-cahaya permataku, lihatlah segala sesuatu di sekeliling kita. Dalam beberapa hal, setiap ciptaan memberikan manfaat kepada kita, bukankah begitu? ambil rumput contohnya. Rumput berguna untuk sapi, kerbau dan kambing. Lihatlah pohon, ia memberi manfaat begitu banyaknya. Beberapa pohon menghasilkan buah-buahan untuk dimakan olehmu, dan pohon yang tidak menghasilkan buah juga memberikan keteduhannya, bukankah begitu? Buah-buahan, semak belukar, dan bunga-bunga semuanya memberikan manfaat untuk mahluk lain. Setangkai bunga dapat memberikanmu aroma yang harum, dan air dari danau dapat memuaskan dahagamu. Matahari memberikan kita cahaya, bulan memberikan kita kesejukan, dan bintang-bintang juga memberikan cahayanya. Semua ciptaan Tuhan memberikan manfaat kepada kehidupan lainnya. Setiap ciptaan membantu dan menyediakan kenyamanan untuk kehidupan lainnya.

Anakku yang mulia, kau harus menyadari ini. Semak-semak, pohon-pohon, bunga-bunga, rerumputan, hujan, dan awan semuanya memberikan kita kenyamanan. Bila mereka bisa menyamankan kita, bukankah sebaiknya kita juga bisa menyamankan orang lain? Kita juga harus memberikan manfaat untuk orang lain. Kita harus bermanfaat bagi setiap mahluk hidup.

Jika seorang manusia duduk di lembah gunung, bayangan dari gunung memberikan kesejukan dan mencegah ia dari panasnya terik matahari. Dengan hal yang sama, jika kau menjadi orang baik, maka kau akan dapat memberikan kenyamanan kepada mahluk lain yang sedang dalam bahaya, dan kau akan dapat memberikan ketenteraman di saat-saat penuh kesulitan. Jika kau seorang yang saleh, berbudi pekerti luhur dan tidak mementingkan diri sendiri, maka kita akan seperti gunung yang melayani tanpa mengharapkan balas jasa ataupun pujian. Jika kita bisa berada dalam keadaan seperti itu dan memberikan ketenteraman kepada mahluk lain, maka kita menjadi bermanfaat untuk orang lain.

Sebuah pohon menaungi kita dari panasnya terik matahari dan melindungi kita dari angin dan hujan. Sebuah pohon bisa begitu bermanfaat. Ia memberikan buah kepada mahluk lain untuk dimakan, tetapi pohon itu sendiri tidak pernah memakan buah yang dihasilkannya, bukankah begitu? Jadi, seperti itu, bahkan jika kita hidup di dunia ini, kita seharusnya tidak memiliki pikiran bahwa kita menikmati kesenangan dunia. Kita harus seperti pohon yang memberikan buah-buahan tanpa ikut serta menikmatinya.

Dengan hal yang sama, walaupun banyak mahluk hidup yang hidup di dalam air, tetapi air tidak pernah memakan mahluk hidup yang ada di air tersebut. Malahan, ia memberikan kehidupan kepada mahluk lainnya. Contohnya, terdapat banyak rerumputan yang ditemukan di dalam air, tetapi airnya tidak memakan rumputnya. Air memberikan kehidupan kepada mahluk lainnya. Seperti itu, anakku yang mulia, jika kita ingin menjadi manusia sejati, maka kita seharusnya menjadi penolong untuk seluruh makhluk hidup. Kita seharusnya tidak berharap untuk memuaskan kesenangan dan kelaparan kita. Kita seharusnya tidak berharap kepada pujian dan kehormatan. Kita seharusnya tidak melihat kepada hal-hal ini. Kita setidaknya harus melakukan tugas seperti yang dilakukan rumput dan semak-semak.

Tuhan melakukan tugasNya tanpa mementingkan DiriNya ataupun keterikatan kepada DiriNya, dan Dia memberi kehidupan kepada seluruh mahluk hidup. Bukankah begitu? Kita harus berada dalam kedaan yang sama seperti Tuhan. Anakku yang mulia, cahaya-cahaya permataku, sudah waktunya kita menghilangkan diri kita dan mengerti Pembimbing kita (Tuhan).

Setangkai bunga memberikan aromanya yang harum, bukankah begitu? seperti bunga yang merekah dan memberikan keharumannya, hati kita harus merekah dan kearifan pun datang. Hati hanya akan berbunga ketika kearifan merekah. Dan aroma harum baru akan muncul setelah cinta merekah didalam dirimu. Apakah seharusnya hati kita merekah seperti bunga sehingga kita juga bisa memberikan aroma yang harum? Seluruh mahluk hidup akan membungkukkan jiwanya kepada keharuman itu; semuanya akan tunduk kepada keharuman itu.

Setangkai bunga tidak perlu menonjolkan dirinya dan berkata, “Aku setangkai bunga.” Mahluk hidup akan menyadari keharumannya, dan mereka akan tertarik dan mendekatinya. Jadi, jika bunga saja bisa melakukan seperti itu, maka ketika kita hadir dengan hati yang berbunga dan merekah, dan juga dengan keharuman yang ada di hati kita, mereka yang mencintai Tuhan dan memiliki iman kepada Tuhan akan datang mendekati kita. Anakku, permata yang menyinari mataku, sebagaimana bunga menarik mahluk hidup, hati ini akan menarik mereka yang memiliki iman kepada Tuhan. Kita seharusnya berada di dalam keadaan ini.

Jika kita mencabut bunga dan memindahkannya dari pohon, bunga itu akan layu dan kehilangan keharumannya. Bunga tersebut hanya bisa memberikan keharumannya selama bunga itu masih berada dipohonnya. Hal yang sama, jika kita meninggalkan keadaan kita yang benar, bunga yang berada dilubuk hati kita yang paling dalam akan layu. Kita harus tetap terhubung kepada pohon yang merupakan hati. Jika kita meninggalkan hati, maka bunga yang ada di dalam hati kita akan musnah. Inilah yang terjadi ketika kita mencari pujian, kehormatan dan kedudukan demi kebanggaan diri kita. Maka kita akan seperti bunga yang dicabut dari pohonnya; segala kebaikan yang kita miliki di dalam diri kita akan mengering. Bukankah begitu?

Semua anak-anakku, tolong pikirkan hal ini, Tuhan selalu ada di setiap tempat, dan Dia melakukan TugasNya tanpa kebanggaan, tanpa kehormatan, dan tanpa ego “Aku”. Seperti itulah TugasNya. Dengan cara seperti ini seharusnya kita melakukan kewajiban kita, doa kita, ketaatan kita, dan ibadah kita. Tidak ada Tuhan yang layak disembah selain Tuhan Yang Maha Besar, Allahu ta’lla.

Anakku yang mulia, kau harus berpikir. Kau harus merenung. Kau harus menyadari. Kau harus mengetahui. Dan kau harus mengerti. Apa yang harus kita mengerti? Bahwa Allah ada dimanapun. Bahwa Allah ada disetiap kehidupan dan mengerti semua kehidupan. Yang Maha Esa yang ada dimanapun, apakah Dia tidak ada di dalam diri kita? Apakah kita harus pergi mencari DiriNya? Apakah kita harus membaca ayat-ayat untuk menghadirkan Dia di dalam diri kita? Apakah kita harus menunjukkan keajaiban untuk melihat Dia? Apakah kita harus terbang ke angkasa untuk melihat Dia? Apakah kita harus menutup mata kita dan menunggu untuk melihat Dia?

Anakku yang mulia, cahaya-cahaya permataku, lihatlah bagaimana air turun ketika hujan. Ia mengalir ke semua tempat dan memberikan manfaat ke setiap hal yang ia lewati. Ketika hujan turun, kau akan melihat pohon-pohon, rumput-rumput dan segala sesuatunya menjadi segar; semuanya memilki kesejukan di dalamnya. Danau-danau menjadi terisi, dan air yang berlebih pada danau mengalir menuju laut. Betapa indahnya ketika air mengalir menuju laut. Ketika hujan turun ke bumi dan danau, ia bermanfaat untuk seluruh mahluk hidup, bukankah begitu?

Dengan hal yang sama, di dalam setiap nafas, hati kita selayaknya mengagungkan Tuhan. Pada setiap saat, kita harus memperkenankan hujan dari Rahmat Tuhan turun membasahi hati kita. Setiap menit, setiap detik, di dalam setiap nafas, kita harus mengagungkan Dia. Di dalam setiap detik kita harus memiliki niat untuk beribadah kepadaNya. Setiap kata yang kita ucapkan haruslah perkataanNya. Setiap pemikiran haruslah pemikiranNya. Kita harus berada dalam keadaan ini. Di dalam pikiran kita, di dalam nafas kita, di dalam perkataan kita, dan di dalam niat kita, kita sebaiknya berhubungan dengan Tuhan. Kita harus hidup dalam niatNya. Apapun kegiatan yang kita lakukan, Dia harus selalu berada di dalam niat kita.

Hal ini bukanlah suatu perkara yang besar, anakku yang mulia. Kita mengira bahwa ini sesuatu yang sangat berat untuk dipikul. Tetapi lihatlah pada nafas: kegiatan apapun yang kita lakukan, nafas tetap berkerja secara otomatis, bukankah begitu? Ketika kita bekerja, apakah nafas berhenti bekerja? Ketika kita bekerja, apakah mata kita berhenti berfungsi? Mereka tetap bekerja, bukankah begitu? Kerja apapun yang kita lakukan, apakah peredaran darah tetap bersirkulasi? Apakah ia berhenti bersirkulasi karena kita sibuk bekerja? Tidak, mereka tidak berhenti. Apapun yang kita lakukan, nafas kita tetap mengalir tanpa henti. Dada kita mengembang dan mengempis, setiap organ tubuh berdenyut, setiap akar rambut tumbuh, dan setiap lubang pori-pori bekerja setiap saat. Jika mereka bisa melakukan fungsinya, maka apakah kita bisa selalu memiliki niat kepada Tuhan?

Niat dan kepercayaan kita terhadap Tuhan harus selalu bersama kita, sebagaimana mengalirnya nafas kita. Iman kita harus konstan. Pikiran-pikiran tersebut, niat kita terhadap Tuhan, nafas tersebut, perkataan tersebut, penglihatan tersebut, dan gema tersebut sebaiknya bekerja secara terus-menerus sebagaimana organ-organ tubuh yang berfungsi secara otomatis. Itulah yang dinamakan Zikir, mengingat Tuhan. Jika kau selalu berusaha mengingat Tuhan sebagaimana organ tubuh yang berfungsi di dalam tubuhmu, maka itulah yang di namakan ibadah.

Ini bukanlah suatu beban yang berat untuk dipikul. Yang lain semuanya bekerja secara otomatis; jika hal ini juga dapat bekerja secara otomatis, maka inilah yang di namakan Rahmat Tuhan. Rahmat inilah yang harus kita sebarkan ke segala sesuatu. Seperti hujan yang memberikan begitu banyak kenikmatan dan kesejukan, kita selayaknya memuaskan dahaga orang-orang yang kehausan. Kita selayaknya menghilangkan kelaparan orang lain dan mencoba untuk menenangkan keletihan mereka. Inilah Tugas yang harus kita lakukan.

Anakku, kita tidak selayaknya mengatakan, “Ini sulit, hal itu begitu sulit,” atau “Hal ini tidak mungkin”. Apa-apa yang kita bawa di dalam diri kitalah yang begitu berat. Ketika hujan turun dan terjadi banjir, kau bisa melihat pohon-pohon dan kapal-kapal mengapung di atas air. Tetapi ketika kau mencoba mengangkat pohon dari tanah, hal ini sangat berat. Jika kita mencoba mengangkat pohon sendirian, akan terasa sangat berat. Sama halnya, jika kau mencoba memikul sebuah kapal, terasa sangat berat. Tetapi ketika kapal tersebut berada di air, apakah ia berat? Tidak, kapal tidak terasa berat bagi air. Ketika kita meletakkan kapal di air, apakah yang terjadi? Kita bisa memenuhinya dengan beban tujuh kali berat kapalnya dan tetap tidak terasa berat bagi air.

Anakku yang mulia, segala beban-beban dan apa-apa yang berat yang kita kumpulkan selama hidup kita sama seperti ini. Kita mencoba membawa mereka bersama kita. Kita mencoba membawa bumi, kita mencoba membawa udara, kita membawa hasrat kita, kita membawa keterikatan terhadap dunia dan kecintaan terhadap hubungan-hubungan kita. Hal-hal ini begitu berat karena kita mencoba membawanya melawan gravitasi bumi.
Tetapi jika kau menjadikan setiap nafas membawa gema dari La ilaha, ill-Allahu- Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Hanya Allah yang ada; jika kau bisa mengambil setiap beban ini dan menyerahkannya kepada Dia Hu, ill-Allahu, ini seperti menyerahkan semua beban kedalam kapal tersebut. Lalu kau tidak memiliki beban lagi. Kau tidak memiliki beban untuk dibawa lagi. Sebagaimana air yang bisa menahan sebuah kapal, Allah akan membawa semua beban-bebanmu. Beban-beban ini tidak berat bagiNya, sebagaimana air tidak merasakan beratnya kapal dan beban-beban yang ada di dalam kapal tersebut. Jika kau berserah diri kepada Tuhan dalam keadaan seperti itu, tidak ada lagi beban untuk mu; Allahu akan membawa semua beban-beban tersebut. Tetapi jika kau hanya memberikan setengahnya kepada air dan kau berusaha membawa setengah lainnya, bagaimana kau akan memikulnya? Bagaimana kau akan membawanya?

Anakku yang mulia, tolong renungkan hal ini. Air hanya akan dapat menahan kapalnya ketika engkau memberikan seluruh kapalnya kepada air. Maka sebanyak apapun beban yang kau berikan, air masih dapat menahannya. Sama seperti itu, kita harus menyerahkan beban-beban kita seluruhnya kepada Tuhan, dan berkata, “La ilaha, Tidak ada Tuhan selain Allah, ill-Allahu, hanya Engkau yang ada, Oh Tuhan.” Dan Dia Yang Maha Bijak di seluruh Alam Semesta, Sang Rahmatul-‘alamin, akan membawa semua beban-beban kita yang berat. Semakin banyak beban yang kau berikan kepadaNya, semakin banyak yang akan Ia bawa.

Jika kau renungkan hal ini, kau akan menyadari bahwa jika kita hidup dalam keadaan seperti ini, berserah diri kepada Tuhan, maka kita tidak akan memiliki ketakutan ataupun kesulitan di dalam hidup. Dan ibadah kepada Tuhan menjadi begitu mudah. Kesulitannya terletak pada perbuatan kita yang mencoba membawa beban-beban tersebut dari bumi dan mencoba untuk menyerahkan beban-beban tersebut kepada Allah. Selalu terdapat ikatan keturunan, ras, dan agama yang mendorong kita. Kita membawa mereka, dan hal-hal itulah yang memberi kita beban. Tetapi jika kita bisa mengambil beban ini dan berserah diri kepada Tuhan, maka ibadah akan menjadi sangat mudah, untuk mencapai Tuhan menjadi mudah, untuk berbicara kepadaNya menjadi mudah, untuk menerima kearifanNya menjadi mudah, untuk bersatu denganNya menjadi mudah, dan mencapai kerajaanNya menjadi Mudah. Kita harus memikirkan hal ini. Kita harus merenungkan segala sesuatunya.

Anakku yang mulia, cahaya-cahaya permataku, kau harus berusaha untuk mencapai keadaan ini. Anakku yang tersayang, setiap dari kita harus berusaha untuk mengurangi beban-beban yang kita bawa bersama kita. Kita harus menyingkirkan beban-beban kita; kita harus berusaha. Semua masalah ini adalah akibat tingkah laku kita.

Semua anakku, kita harus memikirkan tentang hidup kita. Kita harus memikirkan tentang kewajiban dan perbuatan-perbuatan Tuhan. Kita harus mengerti hal tersebut dan berusaha untuk hidup dalam keadaan tersebut. Semoga ibadah kita berada dalam keadaan tersebut, dan mari kita berusaha untuk meraih singgasana Tuhan. Hal itu akan menjadi kemenangan bagi hidup kita. Itulah keagungan dari manusia dan kejernihan dari kearifan kita.

Anakku yang mulia, cahaya-cahaya permataku, semoga setiap dari kamu memikirkan hal ini. Berusahalah untuk berjalan dijalan yang lurus, dan berusaha untuk menilai diri kita. Untuk beribadah kepada Tuhan mudah, tetapi untuk mengerti sifat-sifatNya dan untuk berjalan pada jalan inilah yang sulit. Jadi mari kita berjuang untuk mencapai maqam tersebut. Amin. Amin.
As-salamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatu Kullahu. Semoga keselamatan Allah bersamamu dan Rahmat Allah dan Barokah Allah.

M. R. Bawa Muhaiyaddeen

********

Cinta Sekecil Atom

Salah seorang tetangga Nabi Musa pernah berkata,” Musa, karena engkau akan pergi ke bukit Sinai dan berdialog dengan Tuhanmu – tolong katakan pada-Nya agar mengirimi aku cinta, karena aku tidak memiliki rasa cinta bagimu dan Dia. Biarkan Dia kirimkan cinta, agar hatiku bahagia.”

Ketika sampai di Sinai dan telah menyelesaikan apa yang Musa ingin lakukan, beliau lupa akan pesan tetangganya, Allah-lah Yang mengingatkan beliau. “ Ya Musa, mengapa engkau lupakan tetanggamu ? Bukankah engkau berjanji padanya untuk menyebutnya dalam Hadirat-Ku ? “
“ Ya Tuhan, maafkan saya.”
“ Apa yang dia minta ?”
“ Dia membutuhkan cinta.”
“ Pulanglah dan katakan pada tetanggamu, Aku sedang mengirim cinta sekecil atom ke dalam hatinya.”
“Ya Allah, mohon kirimkan lebih dari itu, Engkaulah Yang Maha Pemurah.”
“Tidak. Itu sudah cukup.”
Musa kembali ke rumahnya dan mencari tetangganya. Ketika beliau menemukannya, tetangga itu tidak lagi berada didunia ini. Matanya terbuka lebar, kedua tangannya terangkat ke atas, mulutnya menganga. Dia tidak bergerak sedikitpun ataupun merasakan sesuatu.
“ Oh tetanggaku,” kata Musa “ Kabar baik, Tuhan sedang mengirimkan sebutir cinta pada hatimu.”
Namun tetangga itu demikian asyiknya sehingga tidak merasakan kehadiran Musa.

Allah-pun memanggil Musa dan mengatakan : “ Ya Musa, walaupun engkau menggiling tubuhnya, dia tidak akan merasakan apapun, dia hanya merasakan Aku.”

M. R. Bawa Muhaiyaddeen

*************

Dialog Seorang Sufi Dengan Para Remaja Dan Orang Tua Mengenai Narkoba Dan Minuman Keras

Bawa Muhaiyaddeen: Aku berikan cintaku untukmu, anakku. Apakah ada pertanyaan yang ingin engkau tanyakan, atau haruskah aku yang berbicara terlebih dahulu, dan kemudian kalian bisa mengajukan pertanyaan? Jika kalian memiliki pertanyaan, silahkan bertanya.
Remaja: Saya memiliki seorang teman yang menginginkan saya pergi berkelana dengannya mengikuti sebuah band grup musik rock mengelilingi kota-kota. Saya katakan kepadanya bahwa saya sudah pernah mengikuti perjalanan seperti ini dan saya berpikir bahwa hal itu bukanlah suatu perbuatan yang baik untuk dilakukan. Saya berusaha menjelaskan bahwa perjalanan itu bukanlah sebuah ide yang baik, tetapi penjelasan saya tidak masuk akal baginya. Dia ingin mengetahui darimana saya mendapatkan ide dan penjelasan ini. Saya mengatakan padanya bahwa saya mengerti mereka dari beberapa hal yang telah engkau katakan kepadaku, tetapi dia benar-benar tidak bisa mengerti.

Pada dasarnya, saya rasa adalah ide yang baik jika Bawa bisa memberikan ceramah mengenai beberapa hal yang berbahaya yang sedang terjadi di dunia saat ini. Beberapa dari anak-anak disekitar kita sekarang sedang berada pada umur dimana mereka ingin pergi keluar bergaul, dan mungkin mereka tidak cukup bijak untuk melindungi diri mereka dari hal-hal yang berbahaya. Mereka mungkin tidak cukup mengetahui tentang obat-obatan dan pengaruh yang ditimbulkan dari teman mereka.

Bawa Muhaiyaddeen: Aku berikan cintaku untukmu, anakku. Tolong dengarkan baik-baik. Jika terdapat seekor kuda yang hidup di kota kemudian pergi meninggalkan kota dan menuju hutan belantara untuk bergabung dengan kuda liar, latihan yang telah diberikan kepadanya akan terlupakan, dan akan sangat sulit untuk ditangkap dan dilatih kembali. Ia akan terbiasa dengan liarnya hutan dan sifat-sifatnya akan berubah. Jika engkau ingin menangkapnya, engkau harus bersahabat dengannya dan membujuknya untuk kembali ke kota. Hal ini akan membutuhkan waktu yang lama, dan walaupun engkau bisa melakukannya, dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk melatihnya kembali. Bahkan bisa membahayakanmu ketika engkau berusaha untuk melatihnya kembali. Engkau bisa celaka. Engkau bahkan bisa jatuh dari kudanya dan mematahkan lengan atau punggungmu. Ketika engkau mencoba untuk melakukan sesuatu seperti ini, hal ini akan sangat berbahaya.

Tetapi, jika engkau membeli kuda yang telah berada dikota sepanjang waktu, akan sangat mudah untuk ditunggangi. Engkau bahkan bisa melatihnya lebih jauh dan mengajarkan kearifan yang baik kepadanya. Hal ini akan membuatmu aman melanjutkan perjalananmu.

Dengan cara yang sama dimana kuda kota yang tersesat dari jalan yang benar dan pergi menuju hutan belantara, terdapat juga manusia yang tersesat dari jalan yang benar. Sebagai hasilnya mereka menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Mencoba untuk menasehati mereka akan sangat berbahaya.

Jadi engkau harus berpikir, “Manusia ini seperti kuda. Dia belum memperlajari apa-apa yang baik. Saya beruntung telah mengetahui hal ini pada diriku. Saya meninggalkan hidup yang liar dan datang ke kota. Sekarang saya mengerti apa-apa yang baik. Tetapi manusia kuda ini tetap belum mengerti, dan adalah tidak bijak bagi saya untuk mencoba menasehatinya. Hanya setelah dia mengalami kesulitan-kesulitan, kesedihan dan penderitaan yang telah saya alami. Hanya setelah singa-singa dan harimau dengan berwajah manusia datang menerkamnya dan dia harus berlari untuk menyelamatkan dirinya yang akan membawanya ke kota untuk dilatih. Sebaliknya dia tidak akan berusaha untuk belajar. “Hanya setelah dia menghadapi bahaya yang sama seperti yang telah engkau hadapi, baru ia akan berpikir untuk berubah. Sebaliknya ia tidak akan berubah.

Jangan pernah mencoba untuk memberi nasehat kepada orang yang tidak memiliki kearifan. Engkau harus menghindar dari orang-orang seperti itu. Pelajarilah keadaan seseorang sebelum engkau berbicara kepadanya. Jika engkau tidak melakukan ini, dan engkau mencoba untuk menasehati seseorang, hasilnya akan berbahaya. Hal ini akan seperti melempar batu kepada sebuah gunung. Batu yang engkau lemparkan akan terpecah menjadi beberapa bagian dan memantul kembali menyakiti dirimu. Ingat, jika engkau mencoba menasehati seseorang yang tidak mempunyai kearifan, akibatnya akan mengenaimu kembali dan mengakibatkan bahaya yang besar kepadamu. Hal ini akan membuat musuh bagimu dan engkau akan dibenci.

Jangan mencoba memberi makan singa dengan rumput. Jangan memberikan daging kepada kerbau. Mereka tidak akan memakannya. Dengan hal yang sama, jangan memberi nasehat kepada orang bodoh. Dia tidak akan menerimanya. Hanya memberikan kepada mereka yang berusaha untuk berubah. Hanya berikan kepada mereka yang memiliki kesadaran akan hal itu. Lalu ia akan mengambilnya dan menggunakan manfaat yang ada di dalamnya. Apakah engkau mengerti? Gunakan kearifanmu dengan cara seperti ini. Cara itu akan baik. Dalam sikap seperti ini seharusnya kalian menggunakan kearifan kalian.

Remaja: Ini adalah bagian yang ingin saya dengar. Alasan utama saya membawa pertanyaan ini adalah agar Bawa bisa mengatakan kepada kami mengapa obat-obatan tidak baik bagi siapapun. Obat-obatan ini sangat menjamur sekarang, dan banyak kaula muda yang menggunakannya. Bisakah Bawa mengatakan kepada kami kenapa kami harus menghindari obat-obatan ini?

Bawa Muhaiyaddeen: Baiklah, kita akan berbicara tentang hal itu. Aku berikan cintaku untukmu, cucuku, anakku, putra dan putriku. Apakah tujuan dari hidup kita? Anakku, alasan kita datang ke sini, tujuan kita di dalam kehidupan, adalah untuk belajar dan mengerti tentang rahasia Ayah kita* dan rahasia dari kerajaan surga. Ini adalah tujuan dari hidup.

Sekarang, ketika kita membeli sebuah ladang, tujuan kita adalah untuk menghasilkan panen yang baik. Ini hanya karena kita percaya bahwa ladang tersebut akan membawa keuntungan kepada kita dan manfaat setelah kita membelinya. Terkadang kita membeli tanah untuk membangun rumah dan terkadang kita membeli tanah untuk bercocok tanam. Selain itu, tidak ada gunanya untuk membeli tanah. Kita harus membuatnya berguna. Kita harus mengetahui apakah tanahnya baik untuk membangun sebuah rumah ataukah untuk bercocok tanam. Sebuah rumah harus dibangun pada dataran tinggi sehingga air tidak akan membanjirinya. Ladang harus dibangun pada dataran rendah sehingga air akan tersedia. Anakku, engkau harus memikirkan dan mengerti akan hal ini.

Jika tanahnya cocok untuk bercocok tanam, engkau harus mengetahui bagaimana cara untuk mengolahnya. Lalu, engkau harus menentukan benih apa yang akan tumbuh dengan baik di tanahnya. Engkau harus mengetahui bakteri apa yang ada di tanahnya. Engkau harus mengetahui serangga apa saja yang ada di sana. Engkau harus mengetahui berapa panjang akar dari benih yang akan tumbuh dan berapa jauh akar pohon yang akan tumbuh ke bawah. Engkau harus mengetahui dimana pohon yang paling besar akan ditanam dan dimana tanaman kecil akan ditanamkan. Engkau harus mengetahui dimana dan bagaimanakah cara menanamkan sebuah pohon yang menghasilkan buah. Jika terdapat bagian yang memiliki batu, beberapa pohon bisa ditanam di sana. Jika terdapat bagian yang memiliki tanah yang lunak, tanaman kecil seperti padi dan ubi-ubian bisa ditanam di sana. Semua hal ini harus dipertimbangkan untuk menghasilkan ladang yang berhasil.

Sekarang, dengan cara yang sama kita bekerja keras untuk menyiapkan tanahnya dan membuatnya indah agar kita bisa mendapatkan manfaat darinya, kita juga harus bekerja keras untuk menyiapkan rumah dari kehidupan kita. Rumah dari kehidupan kita seperti ladang tersebut. Kita harus mengetahui dimana kita seharusnya membangun rumah bagi jiwa dan rumah bagi surga kita. Kita harus mengerti hal ini di dalam hati kita dan berusaha untuk membangun rumah tersebut. Kita harus memikirkan bahan apa yang kita butuhkan. Kita harus bertanya kepada diri kita, “Bagaimana kita seharusnya mengolah kehidupan kita?” Seperti apakah keadaan pikiran kita, hasrat kita, hati terdalam kita? Kita harus mengerti akal pikiran kita, yang sama seperti ladang, yang akan dilakukan untuk kita. Apakah yang akan dilakukan pikiran, hasrat, keangkuhan, karma, kemarahan, kekikiran, keterikatan, fanatisme, dan iri hati pada diri kita? Apakah yang akan dilakukan minuman keras, syahwat, pencurian, pembunuhan, dan dusta pada diri kita? Apakah yang akan dilakukan iri hati, keraguan, kecurigaan, berbangga diri, dan egoisme pada diri kita? Apakah yang akan dilakukan semua hal ini pada diri kita? Ini adalah serangga-serangga yang akan menghancurkan ladang kita dan memakan kehidupan kita. Sifat-sifat buruk ini adalah seperti serangga-serangga yang akan menghancurkan ladang yang baik di dalam kehidupan kita. Mereka akan menghancurkan rumah kita dan seluruh sifat-sifat baik kita. Seluruh kehidupan kita, seluruh bentuk diri kita, akan tidak berguna atau bermanfaat sama sekali.
Tuhan telah memberikan rumah ini yang merupakan tubuh kita, dan di dalam tubuh ini adalah sebuah kekuatan besar. Di dalam kehidupan kita adalah sebuah kebenaran yang misterius. Kita perlu memikirkan tentang hal ini. Dengan hal yang sama ketika kita perlu untuk menganalisa dan mengerti tanahnya sebelum kita menanam di ladangnya, kita harus mengerti dan menganalisa hidup kita. Kita harus mengetahui hal-hal apa saja yang dapat menghancurkan hidup kita, dan kita harus mengetahui hal-hal apa saja yang dapat menggoda kita dan merusak pertimbangan kita.

Sekarang, ketika engkau melihat pemabuk menelusuri jalan, amati bagaimana ia berjalan. Lihat bagaimana ia jalan sempoyongan dan menabrak semua orang yang dilewatinya. Sekarang lihat manusia yang menggunakan obat bius. Dia akan tertawa, dia akan menangis, dia akan mengangguk dengan lidahnya menjulur keluar, dan dia akan melakukan segala jenis perbuatan gila. Dorongan apapun yang ada di pikirannya, akan terwujud di luar. Pikiran seseorang yang menggunakan minuman keras dan obat bius seperti heroin dan mariyuana melihat hal yang sama. Apapun yang dipikirkannya ia akan melihatnya di luar.

Jika engkau melihat seseorang yang menggunakan heroin, engkau akan melihat keadaannya. Pertama, dia akan memakainya. Lalu dia akan mengantuk dan mulai merasakan halusinasi.
Kepalanya akan tertunduk dan dia akan jatuh tertidur dengan lidahnya menjulur keluar. Jika engkau mencoba untuk membangunkannya, dia akan mendorongmu. Dia tidak akan mampu untuk duduk. Orang-orang yang melihatnya akan mengetahui bahwa ia sedang terbius. Dalam keadaan ini, dia akan kehilangan rasa malunya dan kemuliaan dari hidupnya.

Mariyuana adalah obat bius yang akan menumpulkan otak. Ketika seseorang menghisap obat bius, ia akan melihat di luar apapun yang di pikirkannya. Dia mungkin akan berpikir, “Hari ini aku akan bercinta dengan gadis ini. Gadis tersebut akan datang hari ini. Aku harus bertemu dengannya dan memeluknya hari ini.” Lalu, dia membayangkan melihatnya di hadapannya. Setiap orang yang lewat di depannya akan terlihat seperti gadis tersebut. Dia akan senyum kepada setiap orang yang dia lihat, berpikir bahwa dia sedang melihat gadis yang diinginkannya. Ketika efek dari obat bius mulai menghilang, dia akan menjadi sedih dan mulai menangis. Dia akan menangis, dia akan tertawa, dan nalarnya akan menjadi tumpul.

Apapun yang dia pikirkan saat dia sedang menggunakan obat bius, itulah yang akan di alaminya. Jika ia menghisap obat bius dengan pikiran sedang memukul seseorang, dia akan pergi dan berkelahi dengan seseorang. Dalam keadaan ini dia mungkin berpikir, “Ayah dan ibuku tidak memperdulikanku. Lihat apa yang akan aku lakukan kepada mereka!” Lalu, dia mungkin akan pergi ke rumah mereka dan menghancurkan segala sesuatu. Obat bius ini akan menghancurkan hidupnya dan sifat-sifat baiknya. Obat bius juga akan menghancurkan kehormatan orangtua mereka di masyarakat. Obat bius seperti mariyuana akan menyebabkan begitu banyak kesulitan seperti ini.

Pada zaman dahulu, ada beberapa pertapa yang mengisap mariyuana. Sepuluh ribu tahun yang lalu mereka menghisap tumbuhan ini di hutan. Mereka menghisapnya untuk tujuan tertentu. Hal itu memungkinkan mereka untuk melihat di dalam meditasi mereka tuhan apapun yang mereka pikirkan ketika menghisap obat biusnya. Mereka berfokus pada satu titik sebagai tuhan mereka. Mereka mungkin sedang memikirkan mengenai tuhan ular, tuhan sapi, atau tuhan harimau. Duduk di dalam meditasi mereka menghisap mariyuana dan kemudian mereka akan mulai melihat hanya tuhan yang mereka harapkan untuk dilihat. Mereka akan menjadi lupa akan sekitarnya. Mereka hanya fokus pada satu titik.

Tetapi mereka yang menghisap obat bius pada saat ini memiliki begitu banyak jutaan pikiran, dan perbuatan mereka adalah tidak berguna dan tanpa tujuan. Setidaknya para pertapa di hutan melakukannya untuk mencapai suatu keadaan. Tetapi jika engkau menggunakan obat bius pada saat ini, hidupmu akan rusak.

Ketika seseorang menggunakan heroin, dia tidak akan mampu berkerja. Jika dia melanjutkan untuk menggunakan obat bius ini, dia akan menumbuhkan penyakit dan tidak ada yang dapat merubahnya. Jika dia tidak memiliki uang untuk obat bius, dia akan mulai untuk mencuri atau bahkan membunuh. Dia akhirnya akan tergeletak di tanah seperti mayat. Dia bahkan tidak akan mengetahui apakah dia menggunakan pakaian atau tidak. Dia tidak akan mengenali istri dan anaknya. Dia tidak akan mengetahui apakah seseorang adalah pria atau wanita. Seluruh hidupnya akan berakhir. Ketika orang-orang melihatnya mereka akan berkata, “Oh, lihat orang mabuk itu di jalan.”.

Mariyuana, heroin, kokain, arak, wiskey, bir, dan champagne, semua adalah zat-zat yang akan menghancurkan dan membunuh manusia. Zat-zat tersebut akan membunuh kearifannya, kebenarannya, dan keindahannya. Zat-zat tersebut akan menghancurkan keindahan pada wajahnya, keindahan dari hatinya, dan keindahan dari hidupnya. Zat-zat ini bisa merubah manusia menjadi orang gila.

Beberapa di antaramu telah mengalami hal ini. Sudahkah engkau mengamati orangtuamu? Pada zaman sekarang, banyak orangtua yang menggunakan obat bius dan alkohol. Dalam keadaan ini apakah mereka memiliki pikiran atau pertimbangan akan pasangannya atau anak mereka? Tidak. Beberapa di antaramu telah mengalami hal ini, sudahkah? Jika engkau belajar dari pengalaman ini, engkau tidak akan menggunakan obat bius. Engkau seharusnya berpikir, “Oh, inilah yang dilakukan orangtuaku. Aku sebaiknya tidak mengulangi kesalahan mereka dan mengalami penderitaan yang sama, atau hidupku juga akan hancur.” Engkau harus memikirkannya dan belajar dari pengalamanmu.

Amati apa yang terjadi ketika seseorang menggunakan heroin, mariyuana, atau kokain, atau pergi ke bar dan diskotik, atau menyewa pelacur, atau melakukan tarian rock and roll. Engkau harus melihat hal ini. Apakah yang terjadi di tempat ini? Apakah hasil dari setiap perbuatan ini? Apakah yang terjadi ketika seseorang berprilaku seperti ini? Bahaya apakah yang akan ditimbulkan dari perbuatan ini? Engkau harus benar-benar memikirkan hal ini. Seorang ibu bisa kehilangan seorang anak. Sang anak kehilangan seorang ibu. Tingkah laku dan sikap baik mereka telah hilang.

Apakah perbedaan diantara binatang dan orang-orang yang berada dalam keadaan ini? Sudahkah engkau melihat bagaimana orang-orang menari di televisi dan cara mereka melompat-lompat seperti binatang? Sudahkah engkau melihat hal ini? Apakah ini menari? Hal itu lebih buruk daripada yang dilakukan binatang. Setidaknya bagian pribadi dari binatang tersebut tertutupi oleh bulu mereka. Bahkan dada mereka lebih rendah dari tubuh mereka sehingga tersembunyi. Tetapi orang-orang lebih buruk daripada binatang. Mereka bahkan tidak menutupi bagian belakang mereka.

Manusia telah diberkati dengan empat kebajikan yaitu kesopanan, sikap hati-hati, kesungguhan hati, dan takut akan berbuat salah. Ketika engkau melakukan hal ini, kebajikanmu akan hilang. Sapi, kambing, dan binatang lainnya memiliki ekor yang menutupi bagian pribadi mereka. Tetapi manusia memperlihatkan semuanya dan memamerkan diri mereka sendiri.

Sekarang, seekor sapi hanya memperlihatkan dirinya kepada pasangannya saja. Setiap beberapa tahun terdapat beberapa musim dimana sapi akan mengangkat ekornya dan mengijinkan sapi jantan untuk kawin dengannya. Jika sapi jantan mendekatinya pada waktu yang lain, dia akan menendangnya. Jika seekor sapi berada dalam keadaan ini, keadaan seperti apa yang seharusnya ada pada manusia yang begitu mulia? Tipe seperti apakah seharusnya seorang manusia? Kita perlu untuk memikirkan hal ini.
Engkau adalah anak kecil. Engkau adalah anak yang cantik. Kita semua di sini sebagai anak laki-laki dan anak perempuan, sebagai saudara. Engkau adalah putra dan putriku, cucu-cucuku. Engkau harus berpikir. Apa hal yang memuliakan manusia, dan apa hal yang menghinakan manusia? Apa yang membuat hidup manusia mulia, dan apa yang membuat hidupnya hina? Engkau harus mengerti hal ini melalui pengalamanmu.

Amati apa yang terjadi di sebuah rumah tangga ketika ayahnya adalah seorang pemabuk dan ibunya seorang yang baik, wanita yang damai. Pikirkan tentang berapa banyak kesulitan dan masalah yang harus diberikan seorang pria kepada istri dan anaknya ketika ia pergi ke tempat prostitusi. Atau jika wanita pergi dengan pria lain dan suaminya adalah orang yang baik, engkau bisa melihat kesulitan-kesulitan yang harus dialami anak dan suaminya. Engkau harus memikirkan tentang apa yang engkau amati dan alami.

Engkau memiliki mata, engkau memiliki telinga, engkau memiliki hidung, dan engkau memiliki lidah untuk berbicara. Engkau juga memiliki qolbu untuk mengerti hal ini. Sudahkah engkau mengerti, dengan menggunakan indra ini dan qolbumu, apakah yang terjadi pada keluarga ini? Sudahkah engkau melihat perceraian, kesulitan-kesulitan, dan masalah yang mereka derita? Sudahkah engkau melihat alasan bagi penderitaan ini?

Seorang pria pergi keluar dan minum. Dia pulang ke rumah larut malam terlambat dan berteriak dan memecahkan apapun. Atau bisa jadi sebaliknya. Seorang wanita pergi keluar dan tidak menjaga anaknya. Engkau harus memikirkan hal ini. Engkau harus mengerti hal ini. Mengerti hal ini adalah pembelajaran sejati. Obat-obatan, mariyuana, heroin, LSD, dan minuman memabukkan adalah penyebab penderitaan manusia. Mereka mengubah manusia menjadi anjing, hantu, keledai, kera, dan binatang lainnya. Hal inilah yang menghancurkan manusia.

Ketika seseorang pergi bertempur dalam peperangan, dia diberikan minuman memabukkan ini. Mengapa? Karena dia akan menjadi seperti orang bodoh yang akan membabi-buta mengikuti apapun yang diperintahkan kepadanya. Dia akan diperintahkan untuk pergi dan membunuh, dan dia akan pergi dan membunuh. Tetapi, jika ia tidak menggunakan minuman memabukkan ini, dia akan memilik kemurahan hati, perasaan kasihan, dan belas kasih, dan tidak akan mampu melakukan perbuatan keji ini. Dia tidak akan mampu untuk melakukan dosa-dosa ini. Dia diberikan minuman memabukkan ini agar dia mengikuti perintah.

Kadang-kadang sebuah perlombaan kuda diberikan obat-obatan dicampur dengan cairan ini untuk membuatnya berlari lebih cepat. Obat bius memiliki kekuatan untuk merubah kemampuan dari binatang dan manusia. Obat bius dapat merubah manusia dan membuatnya mudah mendapatkan kecelakaan. Obat-obatan ini akan menghancurkan seluruh hidupnya. Di dalam pengalamanmu mungkin engkau telah melihat orang mabuk, para penjudi, orang-orang yang pergi ke rumah bordil dan pergi berkeliling dengan wanita, dan orang-orang yang menggunakan obat bius. Sudahkan engkau melihat bagaimana menderitanya mereka dan mengalami begitu banyak kesulitan? Engkau harus belajar dari setiap pengalaman ini.

Setiap anak harus mempelajari alasan kenapa keluarga berpisah. Hal ini sering terjadi karena minuman keras. Apa yang terjadi ketika seorang pria memulai untuk minum? Hal ini dikatakan di dalam buku May a Veeram, atau Dorongan dari ilusi, yang ketika seorang pria mabuk oleh alkohol, dia akan menjadikan pemikiran apapun yang ada di pikirannya. Jika dia berpikir, “Hari ini aku harus memberikan istriku pukulan yang baik,” dia akan mulai untuk bertengkar dengan istrinya. Di lain waktu seorang wanita akan lewat di depannya ketika dia sedang minum. Dia berpikir, “Oh, dia wanita yang menarik. Aku harus mendapatkannya.” Lalu dia akan mulai menggodanya. Jika wanita tersebut dalam keadaan yang sama, dia akan mengedipkan matanya dan mengatakan, “Oh, aku di sini, ikut denganku.” Lalu apakah yang akan terjadi? Dia akan menjadi pelacur. Dia akan berbicara dan tertawa untuk mengalihkan pria tersebut. Lalu wanita itu akan memutarnya dan mengambil apapun yang ada di dalam kantongnya. Dengan senyumnya dia akan memikatnya dan membuat pria tersebut berada di bawah pengaruhnya.

Beberapa wanita seperti ini bahkan tidak akan memberikan pria tersebut seks yang diinginkannya. Mereka akan memberinya minum dan mencuri berapapun uang yang dia miliki. Beberapa wanita adalah pelacur dalam berbicara. Karena itu, mereka memikatmu dengan kata-kata mereka. Beberapa adalah pelacur menggunakan magic dan hipnotis, dan lainnya adalah pelacur seks.

Di lain waktu ketika pria mulai minum kembali, dia akan memiliki keinginan seksual. Lalu, dia akan mengingat pelacur dan mulai mencuri apapun yang dilihatnya untuk membayar pelacurnya. Dia bahkan akan mencuri barang milik anaknya, pakaian-pakain istrinya, dan perhiasannya. Dia akan mengambil apapun yang terdapat di dalam rumah dan menjualnya kemudian memberikan uangnya kepada wanita yang diinginkannya. Jika pelacurnya tidak mendapatkan uang darinya, pelacur itu tidak akan memenuhi keinginannya. Setiap waktu ketika pria tersebut pergi bertemu pelacurnya dia akan bertanya untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Inilah yang terjadi. Pertama, pria mulai minum. Kemudian, nafsu muncul di dalam dirinya. Untuk memuaskan keinginannya, dia harus mencuri.

Para pecandu obat-obatan juga melakukan hal ini. Para pemabuk dan pecandu obat-obatan keduanya pergi ke tempat prostitusi untuk melakukan hal yang sama. Jika pecandu tidak memiliki obat-obatan, dia harus mencuri. Dia bahkan akan mencuri dari ibunya sendiri. Dia akan mencuri perhiasan ibunya. Dia akan mencuri dari rumah lainnya. Dia akan melakukan apapun untuk membeli obat biusnya. Dia tidak akan memiliki rasa malu, tidak memiliki perasaan aib, tidak berpikir bagaimana dia sedang menghancurkan hidupnya, dan tidak berpikir bahwa dia mungkin akan dimasukkan ke dalam penjara.

Apakah engkau mengerti? Ketika ketagihan, manusia tidak dapat hidup tanpa obatnya. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Jika dia tertangkap sedang mencuri sesuatu, dia bahkan akan mencoba membunuh orang yang menangkapnya. Dia akan melakukan pembunuhan agar bisa melarikan diri. Kemudian, dia akan lari. Dia akan mulai merasa takut untuk dilihat oleh siapapun. Dia akan takut jika polisi melihatnya. Dia akan lari ketakutan hingga polisi menangkapnya. Cepat atau lambat dia akan tertangkap, dan kemudian dia akan mulai berbohong.

Saat ini, dia telah melakukan lima dosa dari mabuk-mabukan, nafsu jahat, pencurian, pembunuhan dan berbohong. Bahkan jika engkau adalah teman wanitanya atau ibunya, semua yang engkau percayakan kepadanya akan hilang. Engkau tidak akan melihatnya lagi. Dia akan mengkhianati kepercayaanmu. Dia akan mengabaikan temannya. Walaupun dia memiliki hubungan persahabatan di masa lalu, dia akan berbuat curang dan berbohong kepadanya. Ketika kebenaran keluar, dia akan berbohong lebih banyak lagi. Ketika dia dibawa ke pengadilan, dia tetap akan berbohong. Dia akan berusaha untuk menghindar dengan mengatakan kebohongan demi kebohongan. Kemudian, dia mungkin akan dimasukkan ke dalam penjara. Dia mungkin bisa dipenjarakan seumur hidup, atau dia mungkin akan digantung. Di dalam penjara, di akan memiliki mengalami penderitaan yang tidak terkatakan. Hanya setelah dia akan berpikir, “Perbuatan-perbuatan yang aku lakukan ini adalah salah.” Hanya setelah dia tertangkap dan dipenjaran baru dia akan memikirkan hal ini. Lalu, dia akan menangis. Dia akan melewati semua ini. Hanya setelah hidupnya telah terperangkap di dalam penjara, baru dia akan berhenti dan berpikir. Sebelum itu dia tidak akan berhenti. Inilah kenapa mabuk-mabukan, nafsu jahat, pencurian, pembunuhan, dan berbohong diketahui sebagai lima dosa yang jalan bersamaan.

Seorang pemuda mulai tergoda untuk melakukan lima hal ini pada saat berumur sekitar empat belas tahun. Remaja putri mulai memiliki hubungan dengan hal ini ketika mereka berumur dua belas tahun. Pada saat-saat umur seperti inilah mereka mulai dekat dengan teman-teman mereka. Mereka memiliki teman baik, teman-teman yang menggunakan obat-obatan, teman-teman yang memiliki kearifan, dan teman-teman yang memiliki sifat-sifat baik. Mereka memperoleh berbagai macam teman.

Masa dimana hidup manusia akan menjadi mulia atau hina adalah ditentukan pada saat umurnya dua puluh lima tahun. Pada masa ini dia akan diasosiakan dengan teman baik, teman buruk, teman-teman yang menggunakan obat-obatan, atau teman-teman yang minum alkohol. Teman-teman ini dapat mempengaruhi dan merubahnya pada saat itu. Jika pertemanannya buruk, mereka dapat merubahnya dan membuatnya buruk. Mereka dapat membuatnya untuk menggunakan obat-obatan seperti LSD, mariyuana, heroin, kokain. Mereka bisa membuatnya mencuri, mengatakan kebohongan, pergi ke prostitusi, pergi ke bar dan diskotik, dan menghabiskan waktu di taman. Teman-teman yang buruk akan mengajaknya untuk bergabung bersama mereka dan mempengaruhinya untuk melakukan hal-hal ini. Lalu hidupnya akan berakhir. Jika dia memiliki teman baik, teman tersebut akan melihat bahwa dia akan menuju pada jalan yang baik dan bergabung dengan kumpulan teman-teman yang baik.

Sekarang, engkau mencoba menolong temanmu untuk menjadi baik, tetapi dia tidak menerima pertolonganmu, dan dia pergi menjauh. Untuk mengajak orang bergabung di jalan yang benar adalah sulit. Tetapi banyak orang yang mau untuk bergabung pada jalan yang buruk. Kebanyakan adalah buruk. Jika engkau mencoba untuk membawa seseorang menuju jalan yang baik adalah sangat sulit. Teman-teman yang baik berada dalam minoritas. Teman-teman yang buruk berada dalam mayoritas. Tetapi untuk mendapatkan teman yang baik adalah sangat sulit. Dibutuhkan waktu untuk menemukan mereka. Hal inilah yang terjadi ketika seseorang dalam masa pertumbuhan.

Jika seseorang berubah seperti temannya yang buruk, seluruh hidupnya akan hancur. Ketika engkau melakukan keburukan-keburukan ini, seluruh hidupmu akan teracuni. Sifat-sifat buruk, kemarahan, menggunakan obat-obatan dan mabuk-mabukan, pikiran dan perbuatan buruk adalah kuman yang akan menghancurkan hidupmu. Engkau harus melepaskan diri dari hal-hal ini. Walaupun engkau sedang belajar di sekolahmu, engkau harus belajar dari pengalamanmu sendiri. Engkau telah melihat orang-orang tertawa dan menangis. Engkau telah melihat seseorang menjual barang miliknya, bahkan pakaiannya, untuk membeli obat-obatan. Engkau telah melihat orang mencuri barang orang lain dan menjualnya untuk membeli obat-obatan. Apakah engkau mengerti? Engkau telah melihat hal ini di sekelilingmu. Sudahkah engkau melihat hal-hal ini di sekolahmu?

Bagaimana seseorang terjerumus ke dalam keadaan ini? Inilah yang harus dipikirkan remaja putra dan putri. Ketika seorang anak lahir, orang tuanya menginginkan anaknya agar sukses. Mereka terikat pada anaknya dan mereka menginginkan anaknya untuk hidup dengan baik. Sayangnya, beberapa orang tua itu sendiri berada dalam keadaan buruk, dan anaknya, mengamati hal ini, mungkin akan mengikuti langkah orangtuanya. Dalam hal ini, anak mungkin juga akan jatuh ke dalam keadaan buruk sebagaimana orang tuanya. Bahkan jika mereka memiliki orang tua yang baik, beberapa anak mungkin akan terpengaruhi oleh teman yang ada di sekolah dan merubahnya lebih buruk lagi. Jadi, terdapat anak-anak yang menjadi buruk karena keadaan orang tua mereka, dan terdapat anak-anak dengan orang tua yang baik yang menjadi sesat disebabkan oleh teman yang bergaul dengan mereka.

Dengan hal yang sama dimana hidup kita dihancurkan oleh sifat-sifat iri hati, kebohongan, keraguan, balas dendam, kecurigaan, kemarahan, berbangga diri, keangkuhan, karma, ilusi, prasangka-prasangka pikiran, nafsu buruk, kebencian, kekikiran, fanatisme, serakah, cemburu, minuman keras, pencurian, pembunuhan, memisahkan karena warna kulit, dan perbedaan dari “aku” dan “kau” obat-obatan juga akan menghancurkan hidup kita. Obat bius dan sifat-sifat buruk pada dasarnya memiliki akibat yang sama. Tingkat kemuliaan yang bisa kita raih dalam hidup kita tidak akan pernah tercapai jika kita menyerahkan hidup kita kepada obat-obatan ini, alkohol, dan sifat-sifat buruk.

Ketika engkau mengamati dengan teliti apa yang terjadi di dunia ini, engkau akan mengerti hal ini. Beberapa remaja akan datang kepadamu dan menangis, dan beberapa akan datang kepadamu dengan tertawa. Beberapa adalah pendiam dan menyimpan apa-apa bagi mereka sendiri. Beberapa mengeluh dan meratapi. Engkau harus memikirkan keadaan ini dan memutuskan keadaan yang mana seharusnya bagimu, dan menyadari bahwa engkau bisa merubah dan meningkatkan hidupmu dengan sifat-sifat baik, prilaku baik, dan tindakan yang benar. Engkau harus menghindari bagian yang buruk dan mencoba membawa hidupmu menuju keadaan yang baik.

Aku berikan cintaku untukmu, cucuku, anakku, putra dan putriku. Sekarang, terdapat suatu masa yang di dalamnya engkau membangun kesuksesan atau kegagalan di dalam hidupmu. Ketika aku melihat benua-benua dari Amerika, Eropa, Asia, Africa dan Australia, aku melihat beberapa hal terjadi. Beberapa orang tua mendorong anak mereka, apakah dia laki-laki atau perempuan, untuk pergi keluar dan mencari teman-teman yang berlawanan jenis. Mereka berkata, “Sebelum kamu menikah, kamu harus harus memiliki pengalaman tentang hidup dan seks.” Orang tua mereka sendiri mengirim anaknya kepada dunia untuk mengetahui tentang hal ini. Mereka mengirim anaknya untuk menemukan teman-teman yang berlawanan jenis sehingga mereka memiliki pengalaman sebelum menikah. Aku telah melihat beberapa orang tua melakukan hal ini.
Sebagai hasil dari didikan ini, banyak anak-anak yang menjadi gila. Beberapa adalah anak-anak yang baik tetapi sekarang mereka telah menjadi gila. Terdapat orang tua yang seperti ini. Jika anak mereka mencoba untuk belajar kearifan, pergi berjalan pada jalan yang baik, dan meningkatkan diri mereka, orang tua mereka tidak akan menyukainya dikarenakan oleh prasangka mereka. Mereka akan berkata, “Kamu bisa menjadi hippies, pergi kemanapun, lakukan apa yang kau inginkan, pergi ke prostitusi, kamu boleh menggunakan obat-obatan, tetapi kamu tidak boleh ikut terlibat dengan orang-orang dari agama dari ras lain.” Terdapat orang tua yang mengatakan hal ini.

Aku mengatakan kepadamu mengenai hal-hal yang telah terjadi di tempat tertentu. Anak-anak ini menjadi hancur karena hal ini. Mereka tidak dapat pergi ke jalan yang baik. Dan ini disebabkan oleh orang tua tertentu. Jadi banyak anak-anak yang telah datang kemari dan mengatakannya kepadaku. Beberapa anak-anak ini sedang berada di rumah sakit jiwa saat ini akibat ulah orang tua mereka.

Bagaimanapun, di beberapa negara asia, para orang tua tetap mengajarkan anak mereka tingkah laku dan sikap yang baik. Hingga anaknya melakukan pernikahan, orang tuanya menjaga mereka di rumah dan membesarkan mereka. Mereka memiliki batasan dan memastikan bahwa anaknya pulang ke rumah tepat waktu. Mereka membimbingnya dan melihat mereka pergi ke sekolah. Hingga mereka melakukan pernikahan, para orang tua melindungi dan membimbing mereka. Tetapi tempat seperti di Amerika, Eropa, dan Australia, para orang tua mendorong anak-anaknya untuk mencoba seks bahkan sebelum mereka menikah. Engkau tidak bisa menemukan kebahagiaan hidupmu di dalam cara ini.

Jika seseorang menghidupi kehidupannya hanya dengan satu pasangan dan mengalami seks hanya dengan satu pasangannya tersebut, maka dia tidak akan mengetahui bagaimana kenikmatan lainnya. Jika seorang pria atau seorang wanita hanya memilih satu orang dan hanya mengalami seks dengan orang tersebut, lalu pria atau wanita itu tidak akan menginginkan orang lain. Mereka tidak akan mengetahui tentang kenikmatan atau penderitaan yang mungkin mereka alami dengan orang lain. Mereka hanya ingin tetap dengan satu pasangannya tersebut. Kendatipun terdapat banyak kebahagiaan, penderitaan dan kesulitan-kesulitan, mereka akan tetap setia dengan pasangannya.

Bagaimanapun, jika mereka memiliki banyak pengalaman, mereka berpikir, “Yang ini lebih baik dari yang itu, dan yang itu lebih baik dari yang ini. Yang ini lebih nikmat daripada yang itu, dan yang itu lebih nikmat daripada yang ini.” Sebagai hasilnya mereka tetap berganti-ganti dan menjadi bercerai. Orang seperti itu bisa memiliki anak dari seorang pria, dua anak dari pria lainnya, dan anak lainnya dari orang lain. Mereka bahkan akan berkata, “Aku tidak menginginkan anak ini.” Banyak masalah-masalah seperti itu dan kesulitan-kesulitan yang didapat dikarenakan hal ini.

Jadi seorang wanita yang seharusnya hidup untuk seratus tahun dengan kecantikan menjadi tua ketika dia berumur dua puluh tahun. Ketika dia berumur dua puluh lima tahun, dia seperti seorang nenek-nenek. Lalu dia harus pergi ke dokter bedah plastik untuk menghilangkan kerutan yang ada di kulitnya. Tetapi bahkan dengan kulit yang baru, dia tetap seorang yang tua. Masa mudanya telah hilang.

Masyarakat dan para orang tua di beberapa negara membesarkan anak-anak mereka untuk menjadi seperti ini. Pada umur empat belas atau lima belas tahun mereka mengirim anak mereka keluar rumah dan membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka suka. Tanpa bimbingan, anaknya mengikuti emosi mereka sendiri dan mengalami kesulitan yang besar hingga akhirnya mereka menjadi hancur.

Terdapat suatu masa dimana di dalamnya anak-anak menjadi sesat dan pergi menuju jalan yang salah. Untuk remaja putri adalah diantara umur dua belas hingga dua puluh tahun. Untuk remaja putra adalah diantara umur empat belas hingga dua puluh lima tahun. Ini adalah masa dimana hidup mereka menjadi hancur, pendidikan mereka menjadi terganggu, hubungan mereka dengan orang tuanya menjadi hancur dan prinsip-prinsip dan nilai-nilai kehidupan yang mulia diabaikan.

Diantara umur dua belas hingga dua puluh tahun, adalah masa dimana remaja putri menjadi terjerumus. Ini adalah masa dimana mereka akan mencari teman pria dan teman yang menggunakan obat-obatan. Ini adalah masa dimana mereka dapat mengikuti keinginan seksual dan bertingkah laku seperti prostitusi. Dalam periode ini, pendidikan mereka bisa hancur, mereka bisa keluar dari sekolah, dan kearifan mereka bisa hancur. Pada periode ini mereka akan tergoda untuk pergi ke pantai bersama teman prianya. Mereka mungkin akan pergi ke Atlantic City atau California dan berjalan setengah telanjang. Semua hal ini datang menggoda remaja putri ketika berumur diantara dua belas hingga dua puluh tahun. Akibatnya sekolah mereka, tingkah laku baik mereka, dan hidup mereka mungkin akan hancur. Para orang tua yang sangat perduli dengan anak mereka harus benar-benar konsentrasi dalam menjaga dan membimbing remaja putri mereka ketika berumur antar dua belas hingga dua puluh tahun. Adalah sangat penting untuk mengarahkan mereka pada umur ini.

Hal yang sama, kehidupan dari remaja putra bisa hancur ketika berumur diantara empat belas hingga dua puluh lima tahun. Ini adalah saat-saat penting bagi remaja putra. Para orang tua harus menentukan batasan, menjaga mereka di rumah, dan melihat bagaimana mereka belajar dengan baik ketika berumur diantar empat belas hingga dua puluh tahun. Jika para orang tua melakukan hal ini, mereka akan mampu dengan baik dalam pendidikan mereka, meraih cita-cita yang tinggi, mendapatkan perkerjaan, dan meraih keadaan yang tinggi di dalam kehidupan.
Adalah pada masa ini dimana para orang tua harus benar-benar menjaga anak mereka. Mereka harus membimbing mereka, memberikan mereka cinta, persahabatan, belas kasih dan pertolongan. Orang tua harus merangkul anak mereka dan mengajarkan mereka tingkah laku yang baik, sifat-sifat baik, dan kearifan. Setiap anak harus memikirkan hal ini. Ini adalah saat-saat dimana engkau bisa tersesat dan hidupmu bisa menjadi hancur. Ini adalah saat-saat dimana teman bisa menjadi pengaruh yang buruk bagimu. Ini adalah saat-saat dimana bahkan gurumu bisa salah membimbingmu. Ini adalah saat-saat dimana engkau bisa berubah dan berakhir di jalanan dan menjadi tersesat. Setiap anak harus memikirkan hal ini.

Jika engkau bisa mengatasi godaan pada masa ini, engkau akan memiliki batas yang kuat di dalam hidupmu. Tuhan akan memberikan tanda kepadamu dan berkata, “Ini adalah anak yang mulia. Anak ini tidak akan pernah terhinakan.” Engkau akan mendapatkan tanda itu dalam pendidikan dan pengetahuan, atau ilmu. Suatu saat ketika remaja putra berhati-hati dan mendapatkan tanda itu, dia tidak akan pernah tersesat. Dengan hal yang sama, ketika remaja putri mendapatkan tanda itu, engkau bisa melihatnya dalam keadaan mulia. Tidak ada siapapun yang bisa menyesatkannya atau menghancurkan hidupnya setelah ini. Dia harus mendapatkan tanda itu pada masa-masa tersebut.

Jadi, engkau anakku harus berusaha untuk mendapatkan tanda ini. Hidupmu bisa berupa keberhasilan atau kehancuran. Jika engkau berjalan salah pada periode ini, seluruh hidupmu akan berjalan menurun. Kemudian engkau akan menjadi seperti mayat. Tidak akan ada perbedaan antara dirimu dan binatang. Setidaknya binatang memiliki kebebasan pada hidup mereka, tetapi engkau bahkan tidak akan memiliki kebebasan.

Seekor kuda dapat memiliki beberapa kedamaian. Tetapi engkau tidak akan memiliki kedamaian itu di dalam hidupmu.

Aku berikan cintaku untukmu, cucuku. Engkau harus memikirkan hal ini. Engkau harus memikirkan dan merenungkan hal ini. Berusahalah untuk membangun kelengkapan ini di dalam hidupmu. Engkau harus berusaha untuk hidup di dalam sebuah cara dimana kesempurnaan dari hidup tercipta lengkap. Jika engkau memberikannya kepada obat-obatan dan memperoleh teman-teman yang buruk dan sifat-sifat yang buruk, maka hidupmu akan terganggu dan semuanya akan hilang. Hidupmu akan menjadi neraka yang panjang. Seluruh hidupmu akan menjadi seperti iklan bagi neraka. Hidupmu itu sendiri akan menjadi papan iklan bagi nereka. Putra-putra dan putri-putri engkau harus memikirkan hal ini.

Anak-anak, engkau harus memikirkan siapakah sahabatmu selama masa-masa penting ini. Sahabatmu adalah pendidikanmu. Hal ini akan menjadi temanmu yang akan menyelamatkan hidupmu. Pendidikanmu adalah teman yang akan selalu bersamamu hingga akhir waktu. Hingga engkau masuk ke dalam kubur, teman ini akan menemanimu. Kecuali bagi teman ini, tidak ada apapun yang akan menyelamatkan hidupmu. Pendidikan ini akan menjadi teman baikmu, temanmu yang terpercaya, temanmu yang setia dan penuh kasih sayang. Engkau tidak akan pernah menemukan teman yang lebih baik dari itu. Dalam masa-masa ini engkau harus memikirkan pendidikanmu sebagai temanmu yang terbaik. Tetapi, jika engkau meninggalkan teman ini, maka sifat-sifat jahat akan datang menjadi temanmu, dan hidupmu akan hancur. Ini pasti.

Aku berikan cintaku untukmu, putra dan putriku, anak-anakku, cucuku. Pikirkan hal ini di dalam hidupmu, dan pikirkan bahwa pendidikan sebagai satu-satunya temanmu di dalam kehidupan dan sebagai sahabat di dalam hatimu. Belajarlah dengan baik dan bertingkah lakulah dengan sifat-sifat baik. Berusahalah untuk mencapai kejayaan di dalam hidupmu.

Putriku, sebelum engkau berumur dua puluh tahun, hal ini harus benar-benar engkau teguhkan di dalam dirimu. Putraku, pelajaran ini harus engkah teguhkan di dalam dirimu selama periode umur diantara empat belas hingga dua puluh lima tahun. Kamu semua harus berusaha untuk memiliki ketetapan hati, usaha, keyakinan yang dibutuhkan untuk melakukan hal ini. Tetapi jika engkau membiarkan hal ini, engkau akan menghancurkan dirimu. Engkau harus benar-benar mengerti akan hal ini. Setiap anak-anak harus menyadari dengan penuh keyakinan bahwa ini adalah teman di dalam hidupmu.

Salah satu cara untuk melakukan hal ini adalah pergi kepada orang bijak dan bersama dengannya untuk beberapa waktu. Pelajarilah kearifan, sifat-sifat baik, dan kejernihan dari dirinya. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan dan kehidupanmu. Hal ini akan menjadi barang-barangmu ketika engkau berjalan di dalam kehidupan. Hal ini akan menjadi barang yang sangat berharga bagi pikiranmu. Hal ini akan menjadi kekayaan dan harta karun bagi hatimu. Ketika engkau sedang bersedih atau bermasalah, dia akan memberimu nasehat dan ketenangan. Semua anak-anak, semua putra dan putri, harus berusaha untuk melakukan hal ini. Jika engkau mensia-siakan saat ini dan hanya bermain-main, hal ini pasti akan menghancurkan sisa dari hidupmu. Apakah engkau mengerti?

Ini adalah waktu dimana engkau bisa tersesat dan menjadi terganggu.

Ini adalah saat-saat dimana temanmu bisa memberikan pengaruh buruk kepadamu. Teman yang menggunakan obat-obatan, teman yang mengunakan mariyuana, LSD, percintaan, seks, teman mabuk-mabukan, teman-teman yang membengkokkan perasaan dan pertimbangan yang baik, teman-teman dari kekikiran, keterikatan, dan fanatisme, semua jutaan teman-teman ini akan datang dan berusaha untuk membawamu tersesat. Ini bisa menjadi masa-masa dimana hidupmu berubah menjadi sebuah kegagalan. Untuk itu, engkau harus menjadi anak dari kearifan dan menggunakan kepintaranmu. Engkau harus memperkuat sifat-sifat baik, berprilaku dengan benar, dan kemenangan muncul dari masa-masa ini di dalam hidupmu.

Setelah periode ini, engkau akan mengetahui apa rahasia dari permainan ini. Kemudian, engkau akan dapat bermain dengan beberapa pengertian. Engkau akan mengetahui mana permainan yang benar. Jika engkau menyelesaikan pembelajaranmu selama periode ini, engkau bisa memainkan permainannya dengan pemahaman mana yang benar dan mana yang salah. Engkau akan mengetahui mana yang buruk dan mana yang baik, dan engkau akan mengetahui perbedaan antara terang dan gelap. Maka engkau tidak akan memainkan permainan yang salah, dan engkau tidak akan mengalami kesulitan-kesulitan lagi. Tetapi jika engkau menyerah dan berusaha untuk memainkan permainannya sekarang, hal itu akan salah. Semua anak-anak harus memikirkan hal ini.

Anakku, aku berikan cintaku. Semua anak-anak harus memikirkan hal ini. Apa yang buruk? Apa yang baik? Apa yang jahat? Apa surga dan neraka? Apa sifat-sifat baik dan apa sifat-sifat buruk? Kita harus memikirkan hal ini. Engkau harus memikirkan apa itu kebenaran dan apa itu kebohongan dan jalani hidupmu dengan cara yang baik. Ambil apa yang telah aku katakan kepadamu saat ini ke dalam hatimu. Renungkan atas apa yang telah aku katakan dan bertingkah lakulah dengan benar di dalam hidupmu. Hal ini akan menguntungkanmu dan memberimu kemuliaan, harga diri dan keadaan yang tinggi di dalam kehidupan. Lalu engkau akan mengerti kekuatan yang akan diberikannya kepada hidupmu.

Semoga Tuhan membantumu. Simpan ini di dalam hatimu. Engkau harus memiliki keimanan kepada Tuhan yang telah menciptakan kita. Engkau membutuhkan pertolongan dan rasa hormat dari orang tuamu. Jika engkau meraih martabat yang tinggi dalam sikap ini, engkau bahkan bisa untuk memperbaiki dan membantu orang tua yang tidak membesarkanmu dengan cara yang baik. Orang lain juga akan melihatmu, sifat-sifatmu yang mulia dan berusaha untuk meningkatkan diri mereka.
Permata berharga yang menyinari mataku, engkau adalah yang hidup di dalam hatiku, engkau adalah yang lahir bersamaku, engkau adalah buah manis yang ada di dalam hatiku, Aku berikan cintaku untukmu semua. Apakah ini cukup? Apakah sebaiknya aku berbicara hal lainnya?

Seekor sapi, seekor kambing, seekor gajah, setiap binatang melindungi dirinya sendiri. Mereka harus melindungi diri mereka dari singa-singa, harimau-harimau, dan banyak serangga beracun yang hidup di dalam hutan. Mereka juga harus menyelamatkan diri mereka sendiri dari ular besar yang hidup di hutan. Jika binatang ini datang ke hutan, semua binatang lainnya akan ketakutan. Bahkan bintang yang tidak takut terhadap binatang lainnya akan takut dengan manusia binatang ini, karena dia akan membunuh semuanya. Manusia binatang ini akan membunuh tanpa berpikir dua kali, tanpa merenungkan dan tanpa belas kasih. Maka dari itu, ketika manusia binatang pergi ke hutan, hewan yang sesungguhnya harus melarikan diri darinya.

Terdapat begitu banyak jutaan manusia yang lebih buruk dari binatang yang paling buruk. Terdapat manusia binatang yang membunuh. Terdapat manusia binatang yang menyiksa orang lain. Terdapat manusia binatang yang memperkosa orang lain. Terdapat manusia binatang yang mencari balas dendam dan manusia binatang yang mencoba untuk menghancurkan kehidupan orang lain. Sebagaimana binatang di hutan telah mempelajari bagaimana melindungi diri mereka sendiri, kita juga sebagai manusia harus belajar untuk melindungi diri kita dengan menggunakan analisis kearifan kita. Jika kita harus hidup di tengah-tengah manusia binatang ini, kita harus belajar melindungi diri kita. Kita harus sangat hati-hati dan menggunakan tujuh dari tingkat kesadaran kita: persepsi, kesadaran, intelek, pertimbangan, kearifan, kearifan analis Ilahiah, dan kearifan cahaya Ilahi. Dengan perasaan dan kesadaran, kita harus meraih sifat-sifat tersebut yang akan memungkinkan kita untuk melindungi diri kita sendiri.

Dengan menggunakan kearifan kita dan sifat-sifat baik, kita harus belajar untuk keluar dari binatang-bintangan ini. Jika kita tidak melakukan hal ini, maka dengan cara yang sama seperti manusia binatang yang pergi ke hutan dan membunuh segalanya, pikiran kita sendiri, hasrat buruk, dan sifat-sifat buruk akan membunuh kita. Hal-hal jahat ini adalah binatang-binatang yang ditemukan di dalam manusia binatang. Jika mereka memasuki diri kita, lalu hidup kita, sifat-sifat baik kita, kemuliaan kita, perbuatan baik kita, tingkah laku baik kita, cinta kita, kasih sayang kita, ampunan kita, dan sifat-sifat Tuhan dan keadilan akan hancur. Pikiran, yang merupakan binatang, hasrat buruk, yang merupakan binatang, dan binatang-binatang dari kekikiran dan kemarahan akan menghancurkan kita.

Binatang-bintangan ini tidak memiliki kemurahan hati dan belas kasih. Mereka hanya memiliki sifat mementingkan diri sendiri. Dengan sangat hati-hati kita harus berusaha untuk keluar dari binatang jahat ini dan sifat-sifat jahat ini. Dengan kejernihan dan kearifan yang besar, kita harus menghindar dan melindungi diri kita. Kita harus mewujudkan usaha ini. Hanya dengan begitu kita bisa menemukan kemenangan di dalam hidup kita.
Setiap anak-anak harus memikirkan hal ini. Kita harus berusaha untuk bertingkah laku baik di dalam kehidupan kita dan berjalan menuju jalan yang baik. Kita harus menemukan kejernihan ini di dalam kehidupan kita. Dengan kerendahan hatiku, dengan penuh cinta memohon kepada kalian semua untuk melakukan hal ini. Aku memohon kepadamu untuk tumbuh dan menjadi anak-anak yang bijak, baik, dan penuh kasih. Engkau harus menemukan kecerahan di dalam hidupmu
Amin. Amin. As-salamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatahu. Maka jadilah. Maka jadilah. Semoga kedamaian dan ampunan Tuhan selalu bersamamu.
M. R. Bawa Muhaiyaddeen

Tambahan sedikit dari saya:
*”Ayah kita”. Ketika kita membayangkan seorang ayah, hal apakah yang akan terbayang? mungkin akan terbayang suatu sosok yang membesarkan kita, menjaga kita, membimbing kita, menyayangi kita, mencintai kita, dll. Para sufi sering menggunakan metafora untuk menggambarkan suatu “rasa”. Bawa Muhaiyaddeen menggunakan kata “Ayah kita” menggantikan “Tuhan kita” agar “rasa” diatas timbul di hati kita pada saat kita mengingat Tuhan. Lebih lanjut telah jelas bahwa QS. 112:3 “(Allah) Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan”. Bawa Muhaiyaddeen kerap menggambarkan kasih sayang Allah terhadap jiwa-jiwa yang suci bagaikan cinta seorang ayah terhadap anaknya, dan selain itu juga karena setiap jiwa manusia berasal langsung dari Allah Ta’ala.
**********

Kejernihan Hati Imam Ali RA

Oleh M.R. Bawa Muhaiyaddeen
Suatu hari ketika ‘Ali sedang berada dalam pertempuran, pedang musuhnya patah dan orangnya terjatuh. ‘Ali berdiri di atas musuhnya itu, meletakkan pedangnya ke arah dada orang itu, dia berkata, “Jika pedangmu berada di tanganmu, maka aku akan lanjutkan pertempuran ini, tetapi karena pedangmu patah, maka aku tidak boleh menyerangmu.”

“Kalau aku punya pedang saat ini, aku akan memutuskan tangan-tanganmu dan kaki-kakimu,” orang itu berteriak balik.

“Baiklah kalau begitu,” jawab ‘Ali, dan dia menyerahkan pedangnya ke tangan orang itu.

“Apa yang sedang kau lakukan”, tanya orang itu kebingungan. “Bukankah aku ini musuhmu?”

Ali memandang tepat di matanya dan berkata, “Kau bersumpah kalau memiliki sebuah pedang di tanganmu, maka kau akan membunuhku. Sekarang kau telah memiliki pedangku, karena itu majulah dan seranglah aku”. Tetapi orang itu tidak mampu.

“Itulah kebodohanmu dan kesombongan berkata-kata,” jelas ‘Ali.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: