Oleh: BOCAH ANGON | Maret 30, 2010

Macam2 Ilmu sihir

Imam Ahmad meriwayatkan: telah diceritakan kepada kami oleh Muhammad bin Ja”far dari Auf dari Hayyan bin ”Ala” dari Qathan bin Qubaishah dari bapanya, bahawa ia telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Iyafah, Tharq dan Thiyarah adalah termasuk Jibt”
Auf menafsiri hadis ini dengan mengatakan:
Iyafah adalah meramal nasib orang dengan menerbangkan burung.
Tharq adalah meramal nasib orang dengan membuat garis di atas tanah.
Jibt adalah sebagaimana yang telah dikatakan oleh Hasan: suara syaitan. (hadis tersebut sanadnya jayyid). Dan diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, An Nasa”i, dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dengan hanya menyebutkan lafadh hadis dari Qabishah, tanpa menyebutkan tafsirannya.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barang siapa yang mempelajari sebahagian dari ilmu nujum (per bintangan) sesungguhnya dia telah mempelajari sebahagian ilmu sihir. semakin bertambah (ia mempelajari ilmu nujum) semakin bertambah pula (dosanya)” (HR. Abu Daud dengan sanad yang sahih).
An-Nasai meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barang siapa yang membuat suatu buhulan, kemudian meniupnya (sebagaimana yang dilakukan oleh tukang sihir) maka ia telah melakukan sihir, dan barang siapa yang melakukan sihir maka ia telah melakukan kemusyrikan, dan barang siapa yang menggantungkan diri pada sesuatu benda (jimat), maka ia dijadikan Allah bersandar kepada benda itu”.
Dari Ibnu Mas”ud r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Mahukah kamu aku beritahu apakah Adh-h itu?, ia adalah perbuatan mengadu domba, iaitu banyak membicarakan keburukan dan menghasut di antara manusia” (HR. Muslim).
Dan ibnu Umar r.a. menuturkan, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya di antara susunan kata yang indah itu terdapat kekuatan sihir.”(HR. Bukhori dan Muslim)
Kandungan bab ini:
1-Diantara macam sihir (Jibt) adalah iyafah, thorq dan thiyarah.
2-Penjelasan tentang makna iyafah, thorq dan thiyarah.
3-Ilmu nujum (perbintangan) termasuk salah satu jenis sihir.
4-Membuat buhulan dengan ditiupkan kepadanya termasuk sihir.
5-Mengadu domba juga termasuk perbuatan sihir.
6-Keindahan susunan kata juga termasuk perbuatan sihir.

Allah berfirman: Artinya: Dan mereka mengikuti apa [76] yang dibaca oleh syaitan-syaitan [77] pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat[78] di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut”, (QS.al-Baqarah 2:102)

[76] Maksudnya: Kitab-Kitab sihir.

[77] Syaitan-syaitan itu menyebarkan berita-berita bohong, bahwa Nabi Sulaiman menyimpan lembaran-lembaran sihir (Ibnu Katsir).

[78] Para mufassirin berlainan Pendapat tentang yang dimaksud dengan 2 orang Malaikat itu. ada yang berpendapat, mereka betul-betul Malaikat dan ada pula yang berpendapat orang yang dipandang saleh seperti Malaikat dan ada pula yang berpendapat dua orang jahat yang pura-pura saleh seperti malaikat.

Muhamad bin Ishak berkata: “Telah berkata sebagian dari pemuka Yahudi: “Tidakkah kalian merasa aneh dengan Muhammad, menyangka bahwa Sulaiman adalah nabi; demi Allah ia adalah penyihir. Maka Allah menurunkan ayat ini.

Dikeluarkan oleh At-Thabary dari Syahr bin Husyahb berkata: Yahudi berkata: “Lihatlah kepada Muhammad, mencampur adukkan yang benar dan yang batil, ia menyebut Sulaiman adalah nabi. Padahal ia adalah penyihir yang dapat menaiki angina?. Maka Allah menurunkan ayat ini. Banyak yang menisbahkan kejadian sihir dan hal-hal ya ng berkenaan dengan pekerjaan sihir kepada zaman nbi Sulaiman as dan zaman Musa as, padahal para nabi terbebas dari apa yang mereka tuduhkan dengan prasangka yang tidak ada dasarnya.

Para pemuka agama Yahudi dengan pengetahuan mereka terhadap Taura, mereka tahu benar bahwa Taurat menyatakan kebenaran kenabian nabi Muhammad saw. Maka dengan munculnya kebenaran ini, sebagian mereka tidak dapat menerima, lalu mereka sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang meniadakan pengakuan ini.

Bagian dari rancangan itu adalah menisbahkan suatu pekerjaan sihir kepada para nabi, yang sebenarnya tuduhan itu berupa prasangka belaka. Sebagai bagian penyesatan umat dengan kedengkian mereka yang tidak mengakui nabi kecuali dari kaum mereka.

Sihir secara bahasa dari kata Sahara-Saharatan ialah Ma latifa makkhadzahu, wa khufiya- sesuatu yang halus tempat pengambilannya dan tersembunyi. Asal perbuatan sihir tipuan dengan berbagai cara dan khayalan, sebagaimana penyihir mengerjakan sesuatau bagi yang disihir, akan tetapi ia tidak sebagaimana yang terlihat bagi yang tersihir. Firman Allah swt tentang hal ini:

Artinya: Berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan”. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka”. (Q.S. Thaha 20:66)

Demikianlah al-Quran mengumpamakan sihir sama dengan khayal yang penuh dengan tipuan mata, ia akan tampak bukan sebagai hakekat sebenarnya. Keyakinan dengan khayal sihir ini menjadikan seseorang terbawa tipuan yang berujung pada kemusyrikan, bahkan ayat diatas dengan tegas memberi pengertian bahwa orang yang mengerjakan sihir adalah kafir. kata kafara diartikan sihir ( tidaklah Sulaiman mengerjakan sihir) dan kalimat (akan tetapi syaitan-syaitan itulah yang mengerjakan sihir). Hal ini ditegaskan oleh Imam Malik dan Abu Hanifah, kekafiran ini disebabkan mengagungkan sesuatu selain Allah.

Golongan Mu’tazilah dan sebagian ahlu sunnah mereka adalah Abu Ja’far al-Istirabady, Abu Bakar al-razi dan Ibnu Hazm al-Dzahiri berpendapat bahwa sihir hakekatnya tidak ada sesungguhnya ia adalah tipuan, kecepatan dan khayal (takhayul). Sihir dalam pemahaman ini bermacam-macam:

1. Memperbanyak khayal dan takhayul dengan makna apa yang dilihatnya bertolak belakang dengan hakekat yang ada. Sebagaimana permainan sulap ketika seseorang yang punya kepandaian menampakkan seekor burung yang telah disembelih bisa kembali terbang, padahal ia mempunyai dua burung yang satu disembelih dan yang lainnya tidak disembelih. Hal ini terjadi karana halusnya gerakan yang dilakukan untuk itu.

2. Perbuatan sihir yang dinisbahkan kepada alam syaitan dan jin, tunduk pada kemauan keras yang bercampur hawa nafsu. Kadang perkara ini tanpa diketahui yang kena sihir, penyihir mempunyai mata-mata untuk mengetahui apa yang dilakukan objek sihir, baik dari kelemahan ataupun suatu rahasia yang dipunyai objek sihoir tersebut. Inilah yang dilakukan oleh orang-orang Arab masa dulu.

3. Sihir mengajarkan perbuatan adu domba, kebinasaan dan kerusakan yang dilaksanakan dengan cara tersembunyi dan halus tujuannya untuk menyesatkan dan permusuhan sesama makhluk denga sebagian yang lainnya. Bahkan perbuatan-perbuatan inilah yang dijadikan jalan bagi syaitan untuk menyesatkan manusia dari jalan yang telah diberikan Allah berupa yang hak dan benar.

Perbuatan sihir tidaklah sama dengan mu’jizt yang diturunkan Allah bagi anbiya’walmursalin, sebagaimana yang menjadi prasangka Yahudi. Mu’jizat diturunkan kepada para nabi untuk membenarkan keberadaannya, dan penetapan mu’jizat hanyalah kepada para nabi dan rasul:

”Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. “Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”.”(QS Taha, 20 : 69)

Perbedaannya jelas bahwa sihir dikokohkan dengan takhilat (takhayul), maka apa ya g dilihat tidak sama dengan hakekatnya Sedangkan mu’jizat para nabi berlaku dengan kebenaran Allah, dzahirnya sam dengan bathinnya atau yang dilihat sama dengan hakekatnya.

Mu’jizat tidak ada yang dapat mengalahkannya, sebagaimana mu’jizat nabi Musa as mengalahkan penyihir-penyihir Firáun. Bahkan nabi Slaiman as diberikan Allah mu’jizat menguasai alam jin dan hewan, tidak pernah mengajarkan sihir. Jelas bantahan al-Quran sebagaimana ayat di atas; kisah nabi Sulaiman as ini kebenaran nyata bahwa para jin tidak mengetahui persoalan ghaib. Tidakkah kita ingat bahwa maut yang merenggut nabi Sulaiman as ketika berdiri ditopang oleh tongkat, tidak diketahui para jin, kecuali tongkat tersebut telah dimaksud telah dimakan anai-anai, sehingga jasad Nabi Sulaiman Alaihi Salam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: