Oleh: BOCAH ANGON | Desember 25, 2010

DZIKIR MODERN

DZIKIR MODERN

Di dalam Al Qur’an dan Hadist banyak sekali digambarkan pengaruh dahsyat dzikirullah (yang bisa bermakna sebagai sebuah proses ingat dan sadar kepada Allah) bagi kita manusia ini. Diantara pengaruhnya adalah:

Disitu ada bergetar hebat, ada tersungkur sambil menangis, ada histeris, bahkan ada yang terjatuh seperti pohon pisang ditebas dengan pedang, BLUUUUK…!.

Lalu kemudian…, dada seperti ditarik-tarik lembut, dan bahkan pada tatanan tertentu dada itu bisa seperti diaduk-aduk yang menyebabkan rasa mual dan muntah-muntah.

Lalu kemudian secara penuh dan utuh dada kita diisi dengan rasa bahagia, rasa damai, rasa tenang, rasa luas, sehingga di dada itu tidak ada lagi rasa khawatir dan rasa takut.

Lalu disitu ada kuasa, ada ada kuat dan semangat, ada tenang, ada gembira, ada cool, ada talin.

Disitu pula ada talenta, ada cerdas, ada fikir.

Disitu ada persaudaraan, ada persamaan kehambaan, ada kejujuran, ada keihklasan.

Disitu ada ketegasan, dan ada juga kelembutan.

Disitu ada kekayaan, ada pengelolaan, ada manajemen, dsb.

Ya…, dalam dzikrullah itu ternyata ada REALITAS SYURGA.

Dan semua itu didapatkannya adalah di dunia ini, sekarang ini, SAAT INI.

Bukan hanya diakhirat. Bukan hanya NANTI.

Tapi SEKARANG…, dan Insyaallah juga NANTI…!!!.

Tapi kenapa kita ini tidak banyak lagi yang bisa mengalami SUASANA Dzikir seperti diatas…???. Dzikir kita kepada Allah saat ini nyaris sudah tidak ada lagi suasananya, selain hanya sebatas komat kamit dan gumaman galau semata, bahkan secara kolektif pula.

Pada taraf tertentu memang masih ada tangis dan rasa bahagia yang muncul. Tapi tangis itu hanya tatkala kita punya masalah saja, dan kita ingin masalah itu hilang dari dada dan tubuh kita saat kita berdzikir itu.

Mungkinkah kepekaan dizikir kita ini menjadi PUNAH karena hampir semua kita yang mengaku dzikir saat ini sudah berpaling ke dzikir yang lain, Dzikir Modern, yang ternyata lebih dahsyat (dalam arti bisa DIALAMI), ketimbang dzikir yang sebenarnya….??.

Coba kita renung-renungkan barang sejenak dua jenak. Pernahkan kita TIBA-TIBA bersenandung dengan suatu irama lagu saat kita berada suasana santai dan dimana saja??. Bisa saat dikamar mandi, bisa saat mengendarai mobil. Ya…, tiba-tiba saja kita bersenandung, kita bernyanyi, kita mengetok-ngetokkan jari-jari tangan ke meja, kita menghentakkan kaki dengan lembut dan berimana.

Akan tetapi…, pernahkan jugakah kita dengan TIBA-TIBA saja mengucap Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, atau ungkapan-ungkapan pemujaan lainnya kepada Tuhan, karena memang saat itu kita tengah terpesona dengan Tuhan…??. Ya…, tiba-tiba saja keluar UCAPAN dzikir itu tatkala kita “Memandang Tuhan”, saat mana kita tengah mengamati semua ciptaan-Nya ini yang TERNYATA berada dalam LIPUTAN-NYA. Kalau tidak pernah, maka sepatutnyalah kita ini berduka.

Pada kondisi pertama, sebuah senandung dan nyanyian, munculnya dengan begitu spontan saja, tanpa ada proses berfikir sama sekali. Disitu ada dorongan dari dalam diri kita sendiri yang membuat pita suara kita bergetar dan kemudian lalu menggerakkan lidah kita dengan pola tertentu. Semua itu kita lakukan dalam suasana kesadaran penuh (tidak trance), sehingga saat itu kita tidak terhalang sedikitpun untuk beraktifitas.

Pada taraf tertentu senandung itu dibarengi pula dengan sebuah rasa damai yang memancar nyata dari mimik wajah kita. Karena pada semua itu memang ada rasa tasydiq atau dzauq yang memenuhi dada kita. Setelah itu baru kemudian keluar ucapan, baru kemudian keluar sendandung, baru kemudian keluar ucapan “I love you”. Bahkan dengan enaknya, dengan ringannya, tubuh kita atau anggota tubuh kita ikut bergerak gemulai.

Pada kondisi kedua, sepertinya JARANG SEKALI, kalau tidak mau dikatakan tidak pernah, dalam kondisi bersenandung dan bernyanyi itu yang keluar secara SPONTAN adalah ucapan “Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, Allahu Akbar”. Justru…, keluarnya ucapan dzikir ini adalah saat kita tengah TERKEJUT, KETAKUTAN, dan KESEDIHAN, baik karena kesenangan ataupun kesusahan dan kesulitan. Nah…, kalau sudah begitu baru tuh keluar ucapan “Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, Allahu Akbar”. Tidak ikhlash memang ucapan kita itu. Kita mengucapkan kalimat dzikir itu hanya sekedar untuk mengatasi rasa terkejut, rasa takut dan rasa sedih kita saja. Bukan lantaran kita memang tengah menyaksikan kemahabesaran Tuhan, kemahaperkasaan Tuhan. Bahwa DIA memang sangat pantas…tas…tas…. untuk di puja, dipuji, dikagumi, dihormati, disembah, dan dimintai pertolongan.

Sekarang…, cobalah bandingkan saat kita “wiridan” sehabis shalat dengan mendengarkan lagu atau irama tertentu dengan durasi yang sama. Mana yang lebih berpengaruh kepada kita, wirid atau lagu?. Makanya kemudian fenomena ini telah dipakai orang untuk memasarkan dagangan mereka dalam bentuk IKLAN di TV dan radio.

Dan pada perbandingan yang PALING EKSTRIM adalah; dahsyat mana pengaruh kita mengucapkan kata “ALLAH” dengan mengucapkan kata “INUL” ??. Saat mengucapkan kata INUL, sepertinya fikiran kita, imaginasi kita, bahkan rasa kita bisa ikut dengan nama INUL tersebut. Otak kita seperti bisa dibawa untuk menikmati goyangan bahenol si INUL walaupun saat itu tidak ada gambar si INUL di depan mata kita. Otak kita ini memang suka dibohongi ya…?.

Akan tetapi saat berdzikir dengan mengucapkan ALLAH, atau ALLAHU AKBAR, mampukah otak kita, fikiran kita, dan rasa kita dibawa untuk “MENYADARI” Ke-MAHA BESAR-an TUHAN, “MENYAKSIKAN” ke-BERADA-an TUHAN, sehingga tidak seujung kukupun kita bisa berkutik dihadapan-Nya. Sebuah Kesadaran IHSAN saja sebenarnya …?. Kalau tidak mampu, maka kitalah yang akan dibawa oleh otak kita berkelana kemana-mana, tak tentu arah, sehingga tidak sedikitpun dzikir itu bekasnya pada keseharian kita. Padahal kita baru saja mengucapkan Nama Dzat yang MAHA DAHSYAT, ALLAH yang dengan Nama itu Da’tsur lemah lunglai dibuatnya setelah didengarnya Rasulullah SAW yang berada dibawah todongan pedangnya mengucapkan kata ALLAH tersebut.

“Duh Gusti…, ternyata sebagian besar dari kami ini memang sedang asyik mengamalkan DZIKIR MODERN yang lebih dahsyat (pengaruhnya) dalam bentuk LAGU-LAGU, IKLAN, BERITA, FILM dari layar kaca dirumah-rumah kami dikeseharian kami”.

Padahal semua Dzikir Modern itu hanyalah aliran informasi saja sebenarnya. Dan ternyata kita jarang pula yang sadar bahwa kita ini sebenarnya tengah dibombardir dengan suguhan informasi yang sama secara berulang-ulang dan dalam waktu yang lama.

Dzikir Modern itu dari hari kehari masuk ke otak kita, kita pelototi berulang-ulang, sehingga menimbulkan “kapalan” impuls listrik diotak kita. Sehingga tanpa difikirkan sedikitpun tempo-tempo kita mampu menggerakkan lidah kita bersenandung, menggerakkan tangan dan kaki kita mengikuti irama, bahkan menggerakkan tubuh kita dengan gemulai. Bahkan beragam iklan seperti “Pakailah DAIA tinggalkan yang lain”, “Ada apa denganmu”, “kecap ini nomor satu”, “hantu ini, alam ini, alam itu”, “bla-bla-bla… How do I look..? ”, dsb., sepertinya terlalu dekat dengan keseharian kita. Ini terus dzikir kita dari hari kehari. Anak kita, istri kita, suami kita begitu kontinu dijejelin dengan dzikir modern ini selama mata kita masih bisa melotot.

Tapi bagaimana dengan Dzikrullah, kesadaran ingat kepada ALLAH …?. Adakah kapalan impuls listrik di otak kita yang membuat senandung kita yang keluar adalah ucapan Allahu Akbar dengan spontan…?.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: